[Creepy-Riddle] Red Gown

image

Prompter-Fic with Creepy Sauce and Riddle Insidedhiloo98

Main Cast : [B.A.P] Kim Himchan, and OC Genre : Canon, Horror!AU, Tragedy, Mistery, Crime!Slight | Adapted from an Urband Legend : [Red Robe]

Rating : General | Duration : Vignette [1382 Words]

Notes : Credit langsung kepada Urban Legend bersangkutan. Tidak dibuat untuk menyinggung pihak maupun ajaran lain.

"Mimpi yang paling menakutkan itu adalah ketika kau sadar kau tak sedang bermimpi."ㅡby Bapkyr [@bapkyr]

Mimpi yang paling menakutkan itu adalah ketika kau sadar kau tak sedang bermimpi. Mereka bilang memang begitu. Namun, rasa-rasanya aku masih belum mendapat esensi dari seutas kalimat itu sendiri sampai pada suatu malam, hal seperti mimpiㅡnamun nyataㅡterjadi padaku.

Malam itu merupakan malam yang paling tidak dapat aku lupakan. Konser dunia grup kami sukses besar, tiketnya habis terjual, dan sebagai sang artis; aku dan teman-temanku tentu saja bangga. Kami menyudahi konser hari ke dua dengan biasa saja, tidak lagi pergi bersama untuk minum-minum ataupun menghabiskan kotak perbekalan. Wajah satu persatu member terlihat pucat sekali ketika kami saling bertatap muka, terutama Jong Up. Mungkin itu dikarenakan ia terlalu lelah menari dan menyanyi di atas panggung.

“Kerja bagus, Semua!” kataku, mencoba menyemarakkan suasana yang terlalu hening di dalam mobil van kami yang belum dijalankan.

Youngjae dan Daehyun hanya membagi senyum kaku, lantas lekas-lekas memejamkan mata. Sementara maknae kami, Zelo, langsung pulas setelah memasuki mobil. Ah, aku akui, konser hari ini memang menguras banyak tenaga. Mataku mencari-cari keberadaan sang leader, tentu saja untuk menemaniku yang mulai digigit bosan. Aku mencarinya selama setengah jamㅡsendirianㅡdan tidak menemukan siapa-siapa di basement kecuali manajer kami yang langsung menyuruh masuk ke mobil.

“Yongguk ke mana?” Aku bertanya padanya, dan iaㅡyang kutahu juga kelelahanㅡhanya menekan-nekan tengkuknya sendiri sembari menggeleng.

Ah, sepertinya perjalanan ini memang harus dihabiskan dengan tertidur. Pikirku pada akhirnya.

.

.

.

Aku terbangun oleh getar ponselku beberapa waktu kemudian. Id Yongguk tertera di layarnya, dan aku menyipit membaca pesan darinya.

Maaf, aku langsung ke rumah sakit selepas penutupan konser. Kuharap kau mau kutitipi anak-anak sampai esok hari, ya. Tidurlah.

Aku mengangguk-angguk. Kudengar cedera yang ia alami cukup berat sehingga Yongguk harus pergi lebih dahulu dari kami semua. Setelah membalas pesan seadanya, aku menoleh pada jam digital di dekat spion mobil. Menemukan barisan angka nol-dua dan nol-satu memenuhi barisannya. Dini hari sekali. Rasa-rasanya aku harus berterima kasih kepada supir kami. Nampaknya ia tak punya lelah, masih sempat saja menyupir dengan kaca mata hitam. Haha, lucu sekali, pikirku.

Kami sampai beberapa belas menit kemudian. Aku tidak begitu ambil pusing dengan member lainnya. Karena, mereka langsung turun ketika mobil dihentikan. Barang-barang mereka dibawa seadanya, sementara aku masih diberatkan dengan backpack berisi barang-barang pribadi untuk dibawa serta ke kamar nanti.

“Aku duluan, Himchan Hyung. Berhati-hatilah.” Aku menoleh pada anggota termuda kamiㅡZeloㅡyang tengah mengusap kelopak mata di ambang pintu. Ia nampak begitu lelah, sehingga aku hanya mengibaskan tangan; menyuruhnya untuk pergi lebih dahulu.

Lobi hotel sangat sepi begitu aku melangkah masuk, ingin mengambil kunci kamar yang sudah direservasi. Sesudahnya, aku menaiki lift, tidak mau beraktivitas lagi karena tubuhku sudah sangat lelah. Kamarku terletak di lantai enam, pada bagian pojok lorong, dengan nomor enam puluh enam di pintunya. Wah, lain kali aku harus memberitahukan ini pada manajer, untuk lebih berhati-hati dalam memilih kamar kami. Enak saja, apa dia tidak tahu perihal gabungan tiga angka kembar yang memiliki makna lain itu.

Lampu kamar mandi berpijar terang selagi aku membersihkan tubuh. Tentu saja aku harus mandi, ini merupakan rutinitas yang tidak bisa aku lewatkan setiap harinya. Aku melangkah keluar kamar mandi dengan santai sembari mengenakan bath-robe berwarna putih yang sudah disediakan pihak hotel.

Baru saja aku hendak memilih baju tidur, pintu kamarku sudah lebih dahulu diketuk. Aku menaikkan alis, berpikir siapa yang hendak berurusan denganku sebelum suara ketukannya terdengar lagi.

“Siapa itu?” tanyaku sembari mengintip melalui celah kecil berbentuk bundar di bagan pintu. Beberapa saat kemudian aku menemukan seorang gadis kecil dengan gaun merah berenda di depan kamarku. Aku membuka pintunya, dan menemukan si gadis dengan tatap lesu.

“Ada yang bisa kubantu, Dik?”

Ia memerhatikanku sejemang, nampak ragu berbicara dengan orang asing yang pintu kamarnya ia ketuk. Kukira dia hanya iseng, jadi aku hendak menutup pintu kembali sebelum ia kembali berujar.

“Aku terkunci di luar. Bisakah kau membantuku?” tanyanya balik. Bahasa inggrisnya tidak terlalu fasih, sama seperti aku. Sehingga dengan mudah aku tahu, bahwa dia pun bukanlah warga negara di sini.

Aku mengatakan padanya untuk menunggu sebentar, sementara aku memakai asal pea-coat dan training hitam yang dapat kujangkau. Setelahnya, kami menyusuri lorong hotel yang senyap. Sesekali aku bertanya padanya meski ia urung menjawab.

“Siapa namamu?”

Si gadis tidak acuh, malah terus berjalan saja. Aku tahu, belakangan ini para orang tua pasti sudah mengajari anak-anak mereka untuk berbicara pada orang asing. Jadi aku menanyakannya hal yang lain, yang lebih pantas dalam urusannya ini.

“Kamarmu ada di lantai ini juga?”

Ia berhenti berjalan. Lantas menoleh padaku dan mengangguk. Manik itu berkilat sedih, sepertinya dia benar-benar dilupakan orang tuanya selepas pesta mereka. Well, gaun merahnya itu nampak elegan untuk dipakai ke pesta, sih. Meski aku yakin, rancangannya lebih mirip sebagai pakaian tidur anak berbentuk gaun. Ah, aku memang lemah jika membicarakan fashion anak kecil.

Kami sampai di lobi beberapa saat kemudian, gadis kecil itu masih enggan berbicara. Sehingga akulah yang akan membantunya berbicara pada wanita resepsionis di depan kami.

“Permisi,” kataku dengan bahasa Inggris seadanya. Si wanita membagi senyum ramah, lantas menanyakan maksudku ada di sana. Aku pun menjelaskan kepadanya perihal si gadis kecil dan wanita itu menoleh ke depan mejanyaㅡmengingat gadis bergaun merah itu memang lebih pendek dari meja lobi.

“Gadis yang mana, Tuan?”

Aku menoleh ke sisi kiriku, tapi si gadis kecil sudah tidak ada. Jadi aku hanya mengusap tengkuk, memberi cengiran seperti pria bodoh. “Aneh, ia tadi di sini. Katanya ia menginap di lantai 6, sama sepertiku.”

“Lantai 6?”

Aku mengangguk, sementara si resepsionis tampak keheranan, ia mengambil buku tamu, dan berkata sesuatu yang tidak masuk akal. “Namun hanya anda tamu yang menginap di lantai 6.”

Aku berusaha melihat buku itu, namun mengurungkan niatku untuk memeriksa lebih jauh lantaran tulisan tangan si wanita terlalu sulit dibaca. Aku sudah bilang, bahasa Inggris dan penulisan alfabetku jauh lebih lemah dibandingkan Yongguk.

“Bagaimana bisaㅡmanajerku menyewa enam kamar untuk masing-masing member. Satu-satunya kamar yang kosong adalah kamar Yonggukㅡrekanku. Jadi, bagaimana mungkin aku sendirian di lantai enam?”

Wanita itu menggeleng lemah. Agaknya meminta maaf untuk pelayanannyaㅡyang menurutkuㅡpayah.  Tak lama setelahnya ia menjentikkan jari. Wajahnya nampak lebih bereskpresi dari sebelumnya.

“Tuan, mungkin anda telah diganggu oleh-nya,” katanya setengah berbisik. Bulu kudukku kontan meremang.

“Memangnya dia siapa? Mengapa bisa begitu?”

Si resepsionis menghela napas. Mengemamkan aku yang rupanya tidak tahu sejarah dari hotel ini. Yah, memang aku tidak pernah tahu. Aku selalu disibukkan dengan kepadatan jadwal grup kami, sih.

“Dahulu pernah terjadi sebuah tragedi di hotel ini. Kami tak suka membicarakannya, namun karena anda sudah melihat ‘dia’, apa boleh buat.”

Aku mendengarkan dengan saksama cerita selanjutnya dan hanya mampu membelalakkan kedua mata.

“Dahulu ada sepasang suami istri menginap di lantai enam bersama anak perempuannya. Mereka menginap di kamar nomor enam puluh enam, sama seperti anda. Namun, mereka berdua bertengkar hebat dan sang suami – yang disinyalir memang mempunyai niatan membunuh keluarganya – pun menembak sang Istri dengan senapan api. Pria itu juga membunuh anak perempuannya yang kala itu baru saja kembali ke kamar. Ketika inspektur polisi sampai, si anak sudah tidak bernyawa. Gaun tidur putihnya menjadi sewarna darah.”

“Apa dia ditangkap? Maksudku, wah – itu termasuk pembunuhan berencana, bukan?”

Resepsionis itu menggeleng lagi. Tangannya mengepal erat. Aku yang tadinya tidak memercayai perkataannya itu menjadi semakin ingin tahu dibuatnya. Ia melanjutkan, “Sayangnya, ketika hendak ditangkap, si Pria sudah lebih dahulu meninggalkan kamarnya. Saat gabungan polisi mulai mengumumkan perihal kehilangannya, pria itu langsung menembak seluruh orang di hotel ini hingga tewas. Dia seperti sapi gila. Bahkan semua karyawan pun turut mati karenanya.”

Napas wanita itu terasa berhenti karena ketakutan. Aku bahkan tidak peduli berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk mendengarkan ceritanya yang setipe omong kosong. Namun, sayang sekali, cerita wanita itu ternyata belumlah selesai. Perlahan, ia berbalik memunggungi aku yang keheranan dan menunjukkan lubang-lubang merah terbuka di punggungnya.

“Lihat, di sini ia menembakku.”


Aku bergetar hebat, mundur selangkah demi selangkah sampai ponsel di saku pea-coatku bergetar.

Himchan! Manajer bilang kau tidak ada di mobil setelah konser usai? Member lain mencarimu sampai

Aku tidak membaca lanjutannya. Semua sudah cukup jelas untukku. Ah, rupa-rupanya aku memang salah mengambil jalur sedari awal.

 

Fin.

 

3 thoughts on “[Creepy-Riddle] Red Gown

  1. What the…. Secara logisnya, itu tengah malam. Dan kenapa Himchan percaya tengah malam masih ada anak kecil yang jelas-jelas disekitarnya sepi.
    Dan di akhir dengan santainya dia blg ”
    Ah, rupa-rupanya aku
    memang salah mengambil jalur sedari awal.” Ga kebayang kalo aku yang jd dia gimana-_-

    Nyeremin… Tapi ff ff begini yang
    justru makin penasaran dan ketagihan hahahaha

    • haihaihai
      ya, mengingat dia baru banget abis mandi, dan ketukan di pintunya juga di luar pikiran dia, jadi kontan dia bukain pintunya. apalagi diliat yang ngetuk itu anak kecil, kan.
      haaha, emang gak bisa dibayangin deh kalo jadi himchan. semoga kita gapernah mengalami hal begitu, yaa. Yes! aku seneng kalo ini nyeremin. sekali lagi, salam kenal aku Dhila dari line 98!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s