Impression

image

Cast; Jackson Wang, OC | Genre; Life!AU, Fluff!Slight | Duration; Vignette | Rating; G

Asaku tak sudi berpola, kataku ditepis telak selagi aksaraku tak mampu lagi dirangkai benarㅡ

Malam melintang panjang untuk orang-orang yang menunggu. Aku berada di antara mereka, satu yang menghitung tiap pergerakan jarum jam dari waktu ke waktu. Ruangan rawat ini tidak menemaniku secara utuh, malah membumbui pandangan dengan warna putih yang ㅡsesungguhnyaㅡ menjengkelkan setengah mati. Sudah dua tahun aku di sini. Berkecimpung dalam pengobatan yang sebenarnya bukanlah alternatif utuh.

Pagi tadi kudengar akan ada pasien di ruang sebelah. Tapi, aku tak berharap lebih. Siapa tahu ia hanya pria paruh baya sakit yang merepotkan tim medis tiap malamnya, atau mungkin gadis kecil dengan tubuh kurus dan tampang kuyu. Jadi, ketika pintu ruanganku dibuka beserta beberapa tim medis yang turut masuk ke dalam, aku hanya berpura-pura tidur. Berpolah tak acuh sementara nuraniku membentak ingin tahu. Persepsinya terlalu menjengkelkan untuk segelintir rasa bimbang dalam diri sendiri.

Sepintas kulihat ia. Tubuhnya baik-baik saja, terhitung sehat untuk anak seusianya. Mata itu terpejam selayaknya ia memang tak sudi untuk bangun kembali. Huh, paling-paling ia hanya pemuda sok keren yang kelewat keras kepala. Meski aku tidak pernah tahu apa yang ada di balik selimutnya, sih.

.

.

.

Hari-hariku terlanjur membosankan. Jackson ㅡsi pemuda yang baru pindah ke kamar rawatkuㅡ bolak-balik memainkan kursi rodanya. Sibuk sekali, pikirku setengah jengkel. Bunyi kriet! Kriet! yang memusingkan bergema sepanjang lorong sepi di ambang pintu, menyertakan aku yang tak ingin mendengar dalam impresi jelek si pasien baru.

“Kenapa kau bisa terbaring di sini?”

Suatu hari ia bertanya padaku. Maniknya berkilat tenang, tapi tatapan itu seperti ingin tahu. Jadi kukabarkan padanya mengenai penyakit apa yang aku tanggung, dan ia hanya mengangguk-angguk. Normalnya orang bertanya balik, tapi, maaf, aku bukanlah perempuan setipe itu. Jadi aku segera menyingkap tirai jendela tak jauh dari jangkauanku, lantas memperhartikan dunia luar dengan acuh tak acuh.

“Mereka bilang kakiku harus segera diamputasi,” Tiba-tiba ia menyela waktu, membenamkan aku bersama elegi angin di sekitaran. Mau tak mau, aku mendengarkan. “Tapi, aku tidak begitu peduli. Kautahulah, tipikal apa aku ini.”

Sekejap aku menoleh, memindai Jackson tidak yakin. Sebelumnya aku belum pernah berasumsi dari golongan apa dia, apalagi tipikalnya. Yang aku tahu, dia menguap sebanyak enam kali dalam dua belas menit terakhir, mengerjap lebih dari tiga puluh kali dan melirik aku bolak-balik hampir selama tiga puluh menit yang berlalu.

“Apa?”

“Kau tidak bisa berkesimpulan?”

Ditelan geming, ia menyerbuku lagi dengan kata-kata pedas nan menusukㅡlebih tepatnya, mengusik aku yang tak gemar diperhatikan. “Nyatanya kaupun begitu sama dengan orang-orang di luaran sana. Berlagak kuat padahal kaupun tak bisa menyikapi takdirmu.”

“Aku bisaㅡ”

“Kaubisa. Tapi terlalu naif untuk berterus-terang. Bukannya menganggap diriku benar, hanya saja kilatan matamu terlalu yakin; seolah-olah kau ini mampu melakukan semuanya sendiri.”

Asaku tak sudi berpola, kataku ditepis telak selagi aksaraku tak mampu lagi dirangkai benar. Beberapa detik terakhir aku habiskan dengan melolong melalui iris mata yang saling berselisih tak nyata. Jackson menepis satu-satunya canggung di sana, memegang tanganku yang nyatanya sudah bergerak tak nyaman sedari tadi.

“Aku tahu orang sakit harus berkonsentrasi terhadap penyakitnya. Namun bagiku, melihat kamu yang menderita lebih menyesakkan ketimbang memutar seribu kilometer roda kursiku.” katanya tanpa jeda dan aku hanya menelusuri suara halus itu. Detik selanjutnya aku masih tenggelam dalam muda iris cokelatnya, dan Jackson buru-buru menambahkan. “Kalau diperbolehkan, aku mau membuatmu seceria lalu, segamblang aku yang memang terlalu mudah untuk menyatakan cinta.”

Bukan lagi detik atau menit, atau mungkin belasan di antaranya yang mampu aku hitung. Satuan waktu berikutnya aku masih di sana, bertemankan genggaman lemah Jackson pada sela-sela jemari dan rasa canggung yang berubah menjadi kegugupan luar biasa. Raut wajah sendu berganti jadi semu, kemerahan. Dan dentam di dada yang biasanya saru akan identifikasi penyakit, bergerak nyata selagi aku merasakan hangat di sekujur tubuh.

Yang aku tahu memang lebih banyak dari yang mampu aku prediksikan, dan satu-satunya gambaran nyata masa depan di kepalaku hanyalah satu; Jacksonㅡsi pemuda antah berantah yang kelakuannya tidak lebih candu dari permen kapas, namun sehangat limun yang aku minum lebih dari dua tahun yang lalu. Waktu-waktu di mana kesenangan itu nyata, dan bahagia menyembul sukarela di sekitarnya.

“Aku merupakan atlet anggar nasional dahulunya,” Ia tiba-tiba berkata demikian, memperhatikan langit melalui celah jendelaku. Fokus itu masih di sana, mengambang di antara indahnya angkasa dan keberadaan aku di sampingnya. Lantas ia menubruk pandanganku sekali lagi. “Mungkin kali ini aku telah memenangkan kompetisi anggar di dalam hatimu.”

Oh, begitukah, Jackson Wang?

Fin.

2 thoughts on “Impression

  1. Hahai sori kadhil ini cuman mau ngejalanin prinsip aku yaitu “Siders itu selamanya siders/?”. Becanda. I mean like, author apa yang suka siders?

    Tapi, mungkin kali ini komen aku gabisa panjang juga. Siapa juga yang bisa nahan cuap cuap kalo mz jaxon udah ngegombal tentang segala hal bersangkutan dengan skill anggar dia dan YA TUHAN DIA PENGEN DIAMPUTANSI LIKE WUT DAN DIA NGOMONG SUKA SAMA CEWE ITU SEGAMPANG NGOMONG MINTA AER PUTIH TUHAN BANTU SAYA.

    Ok, test test, sip caps lock off. Tapi, kadhil seriusan ini fic has a great bussiness like yea aku bahkan gangerti aku ngomong paan sekarang. Sekian sampai ketemu kadhil yeah~
    Zyan

    • Mas jeksen ngegombal mah bukan contoh yang baik itu ya mungkin dia udah semakin seteres sehingga keluar jalur dan malah ngeromance. Diamputasi mungkin karena kebawelan yes anaknya suka jejingkrakan like there is no tomorrow asek

      Hehehe seeyaaaa Zyaaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s