RandomㅡPortrait

image

A half fanfictionㅡ

Cast; Minah and OC | Genre; Daily-Life!AU | Duration; Ficlet | Rating; Teen

Sore hari tidak pernah secerah itu. Biasanya akan ada rangkaian awan dan burung-burung camar yang berlalu, juga pias jingga di langit sana. Tetapi, kali ini suasana cenderung sejuk, ditambah langit masih berbaik hati menyiarkan pemandangan biru muda. Benar-benar hari yang menarik.

Aku berdiri seorang diri di hamparan lumput nan luas, sambil mengendus aroma tanah yang sempat ditindas hujan. Well, itu memang favoritku. Sesudahnya aku hanya mengamati sekitar dengan khidmat, ditambah menyelami tawa ceria anak-anak kecil yang tengah bermain bersama. Aku turut tersenyum, dan saat itu juga, kudengar bunyi klik dari kameramu.

Aku tak segan menoleh, memerangkap kamu yang rupa-rupanya mengambil gambarku seenaknya. Bukannya aku bermaksud marah, hanya saja, tingkahmu kelewat konyol untuk orang yang selama ini kukenalㅡmeski nyatanya baik kamu maupun aku belum pernah berkenalan secara resmi.

“Hei, kamu di sini?” tanyaku yang kamu balas anggukan. Kamu mengusap bagian belakang kepalamu, masih canggung atas kelakuanmu yang sempat kutangkap basah. Maaf sekali, aku tidak bermaksud demikian.

“Musim panas kali ini berbeda,” ungkapmu kemudian. Aku yang tadinya direngkuh senyap, lantas menoleh padamu.

“Berbeda?”

Kamu mengangguk lagi, “Ya. Kamu tahulah, cuacanya bersih, langit biru menggantung di angkasa dan aku gemar menghabiskan waktu-waktuku untuk keindahan-keindahan itu.”

Aku hanya melejitkan alis, tapi tak urung membagi senyum padamu. Kita terkekeh bersama, dan kamu kembali mengarahkan lensa kameramu padaku sampai bunyi klik yang familier terdengar.

“Kamu memang gemar seperti itu?”

“Apa?”

“Gemar mencuri potret?”

Mungkin kamu hendak menyangkal, tapi aku terlanjur tahu. Jadi tidak ada lagi yang dapat kamu lakukan selain membagiku sebuah senyum yang sesungguhnya menerbangkan jiwaku ke angkasa. Haha, persepsinya konyol sekali.

Aku melirik arloji di pergelangan tanganku lantas mencuri pandangmu. Sesungguhnya aku tak ingin pulang secepat ini, tapi apa dayaku; makan malam bersama ayah dan ibu tidak dapat kulewatkan begitu saja.

Aku menepuk bahumu dan kamu pun menoleh canggung-canggung. Kilat manikmu selalu nyaman untuk dipandang, dan aku mengungkapkan kepulanganku.

“Minah!”

Aku menoleh kepadamu. Beberapa langkah membentangkan jarak di antara kamu dan aku, tetapi kamu malah berkata, “Begitulah,”

Aku tidak pandai membaca pikiran orang lain. Jadi aku menunggu sampai kamu melanjutkan kata-katamu. Detik selanjutnya, ketika iris cokelatmu bertubrukkan dengan irisku dan waktu seakan berhenti; kamu langsung menambahkan, “Aku memang selalu suka mengabadikan keindahan-keindahan itu; kamu, termasuk di dalamnya.”

Aku tersenyum saja, begitu juga kamu. Sore itu rupanya benar-benar berbeda dari sore yang lainnya.

Fin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s