[] Fiasco

image

Cast; [GOT7] Mark Tuan, [Laboum] Solbin | Genre; Family, Crime, AU | Rating; PG-15

Nyatanya, semua yang telah dilakukan hanyalah sebuah fiasko.

.

.

.

Sinar fajar menyisir langit pagi tepat ketika kedua iris cokelat pekat Solbin menelisik angkasa. Gadis itu meresapi hawa dingin di sekitar, gemar sekali membiarkan kulitnya berhabituasi dengan suhu rendah dan desak angin. Kala itu ia melangkah ke sekolahㅡlengkap dengan tas punggung dan seragamnyaㅡsembari menghitung mundur waktu demi waktunya. Semalam isi kepalanya berkicau begitu berisik sampai-sampai lelapnya terusik, sampai mengganggu kakaknya di kamar sebelah. Solbin merupakan pribadi yang acuh tak acuh, sehingga hanya meminta maaf sekenanya pada satu-satunya saudara yang ia punyai itu, Mark namanya.

“Mengapa tidak berangkat bersamaku?”

Pertanyaan itu masih segar di ingatannya. Gelengan serta wajah pucat Mark masih terpaku di sana, begitu menyebalkan sampai ia muak. Sebetulnya hubungan mereka tak seburuk itu. Kecuali setelah kabar mengenai kematian orang tua mereka merebak ke seluruh penjuru. Pada saat itu, semua yang ia lakukan hanyalah sebuah fiasko, pun dengan semua yang ia rencanakan. Nyatanya Mark tak menghargai kontribusinya jauh-jauh hari, malah membungkam diri dan membentangkan jarak yang tak sedikit di antara keduanya.

Solbin menghela napas lelah, kepalanya berdenyut. Ia berhenti dan menyandar pada salah satu dinding rumah, lantas membiarkan sepoi angin menyinggung helai surainya. Gadis berusia tujuh belas itu dicengkeram kegemingan total, batin dan nuraninya bergejolak tak sabaran. Sialnya, ia tahu bahwa siang hari itu masih lama.

.

.

.

Kelas begitu sibuk hingga seorang Solbin yang mencuri waktu tidur di mejanya tak pernah dihiraukan. Presensinya seakan tak terlihat, sekaligus tidak dihargai. Tapi toh Solbin sudah terbiasa dengan itu semua. Ibundanya meninggal dunia di usianya yang ke tujuh, lalu mendapat ibu sambung dengan tabiat dibuat-buat; mampu membuatnya enggan bersosialisasi lebih lanjut. Solbin sudah mengebalkan diri dengan segala sikap tidak acuh itu, toh dia masih punya Mark. Kakaknya yang satu itu paling tidak akan menjaganya di waktu yang benar-benar krusial, pula mendengarkan curahan hatinya. Sayang disayang, Solbin bukanlah tipe gadis pencerita.

Kurang lebih ia menghabiskan dua belas menit setelah dering bel pulang sekolah dibunyikan, lalu mengikis jarak menuju rumah. Pikirannya berkecamuk, hampir sama dengan benang kusut buatannya setiap ia selesai bermain-main dengan boneka-boneka di kamarnyaㅡyang notabene adalah miniatur dari orang-orang di sekitarnya.

Hei, bicara soal itu, kini koleksi bonekanya bertambah. Solbin harus segera merampungkan bagian kepala ibu tirinya, atau tidak sama sekali.

“Buat apa mengumpulkan semua ini?” Mark bertanya pada hari di mana hujan dan kabut menyelingkupi kediaman mereka dengan hebatnya. Solbin tak langsung menjawab, gadis itu menyibak surainya ke belakang, lantas menyinggung tatap figur Mark. Dia terkekeh.

“Aku hanya mengoleksi mereka, kak. Toh keberadaan mereka sudah tak dapat kuraih kini, dan dengan wujud ini, aku bisa membagi lakon mereka sesuka hatiku.”

.

.

.

Belakangan ini Mark selalu pulang larut. Solbin kira perkuliahan memang seberat itu, tetapi bukan berarti sang Kakak dapat kembali sesukanya. Solbin yakin mereka sudah menentukan tenggat waktu pada peraturan yang keduanya sepakati. Dan, yah, mungkin Mark mulai bosan dengan itu semua.

Segala pemikiran itu buyar ketika Solbin sampai di ujung komplek rumahnya. Sekonyong-konyong pertanyaan demi pertanyaan mengeluarkan diri, membuat Solbin kelimpungan untuk menjawabnya.

“Kamu sudah mengetahuinya?”

Mark bertanya padanya di ambang pintu masuk. Kediamannya dipenuhi dengan garis kuning dan beberapa aparat yang terlibat. Solbin terpaku di sana, menatap iris karbon Mark hingga pening menguasainya. Orang-orang itu bilang telah ditemukan mayat di ruang bawah tanah mereka. Orang-orang itu berkata bahwa pelakunya ialah salah satu dari mereka, dan hingga kini, Solbin masih tidak mengerti apa alasan Mark melakukan semua itu.

Si gadis mundur selangkah demi selangkah begitu Mark mencoba merengkuhnya. Lalu sang Kakak menelisik tubuhnya sendiri dan terkekeh pelan. “Maaf, ini hanya darah bohongan. Aku diharuskan memakainya ketika melakukan reka ulang pembunuhan.” katanya, santai.

Solbin semakin menambah jarak. Barangkali enggan berdekatan dengan Kakaknya, atau mungkin ia punya alasan lain. Mark yang pulang larut, ibu tiri mereka yang selalu mencaci keduanya, ayah mereka yang jarang sekali berada di rumah; semuanya menjadi beban tersendiri di benak gadis bersurai panjang itu.

Bagaimana bisaㅡ

“Tenang saja, mereka tak akan menyakitiku, kok.” sambung Mark, lalu memaksakan diri membagi senyum. Adiknya bungkam, masih sukar menerima fakta di depan mata. Kakaknya kini seorang pembunuh. Dan iaㅡ

“Kamu pasti baik-baik saja,”

ㅡmakin tak mengerti mengapa dirinya tak pernah ditangkap.

“Aku tahu kamu masih ingin melanjutkan sekolah. Toh aku juga sudah bosan dengan perkuliahan.” Mark berkata, berada dekat dengan telinga si adik. Hal terakhir yang Solbin ingat mengenai Mark sebelum bayangannya hilang di dalam mobil polisi adalah ucapannya.

“Terima kasih telah melepaskan kukungan ibu tiri! Kakak sayang kamu.”

Ya, Solbin juga begitu. Dan ia berjanji, tidak akan lagi merenggut nyawa orang lain. Well, ibu tiri mereka dikeluarkan dari perhitungan.

| Fin |

A/N:

Halo, semua! Sebetulnya aku gak tau apakah ini layak dipost atau enggak. Maksudku, hei! Begitu aku buka IFK, banyak sekali karya-karya indah dari para scriptwriter!🙂 Aku seneng karena IFK udah hidup kembali, komen juga banyak huray! Oiya, selamat datang keluarga baru! Karya kalian luar biasa! ^^

Dhilu sayang kalian! Hehehe. Boleh kan aku minta review dan likenya? Thankies all!

One thought on “[] Fiasco

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s