[Vignette] Of Diminishing and Behavior Things

image

Cast; [BTS] Kim Taehyung, [OC] Primrose | Genre; Daily Life, Friendship, Family, Fluff, Crime | Rating; PG

Prim tidak bisa mengerti semua ini. Kadang ia bertanya-tanya, mengapa pipi tembam Taehyung kerap kali membuatnya gemasㅡeh, atau dia kesal dibuatnya?

Nah, hanya dengan memikirkannya sejenak, kepala Prim sudah pusing karenanya. Kalau diingat-ingat, semua masalah ini datang kepadanya semenjak kemunculan si bocah aktif itu pekan lalu. Taman bermain komplek seketika menjadi larut akan kedatangan si lucu Taehyung, atau mereka biasa menyebutnya Taetae. Katanya bayi mungil usia tiga belas bulan itu terlalu gemuk dan yah, ibunya pun sering sekali menggendong si kecil Taehyung. Usia Prim baru menginjak dua tahun kala itu. Ia jadi merasa pesta ulang tahun yang dirayakan ayah dan ibunya tidak begitu berarti. Toh perhatian ibunya lebih banyak dicurahkan pada Taehyung ketimbang dirinya.

“Maㅡmaㅡma!” Prim bersuara memanggil ibunya, tepat ketika mereka berada di pusat perbelanjaan. Gadis kecil itu mengamit selembar celana kodok berbahan jins yang menurutnya menarik.

Sang Ayah mendekap putrinya, tahu akan membeli dan membiarkan si kecil mengadu pada ibunya terlebih dahulu. Tetapi, ada yang janggal hari itu. Prim dan menoleh ke sana dan ke sini, mencari mamanya. Ayahnya juga turut bergerak memutar, membantu kegiatan si kecil. Detik ketika Prim melihat ibundanya tengah mendorong kereta bayi Taehyung sembari tersenyum riang, ia tahu baju itu tak lagi begitu menarik.

.

.

.

Prim terbangun dari tidurnya akibat tangisan bayi. Uh, itu pasti si Taehyung yang berisik. Gadis bersurai legam itu tak lagi dapat terlelap, sulit sekali kembali ke alam mimpi. Yang ia tahu, Taehyung menginap di rumah mereka untuk dua minggu ke depan karena orang tuanya pergi entah ke mana. Apapun itu, Prim berharap mereka lekas kembali dan membawa pulang bayi itu.

Si gadis menunggu tangis itu berhenti. Sayangnya, apa yang dia harap tak kunjung datang. Mungkin filter suara dari kamar mereka tidak terdengar oleh ibunya, lagipulaㅡhei! Ini kali pertama bayi itu menangis di malam hari. Well, seingat Prim, Taehyung jarang menangis. Kali ini, ia jadi penasaran apa penyebabnya. Meski usia mereka hanya berbeda beberapa bulan, Prim sudah dapat melirik Taehyung di ranjang sebelah. Ketika Prim mengunjunginya, ia lekas kembali normal.

Wajah Prim kontras sekali jika dibandingkan dengan si bayi. Taehyung langsung tersenyum begitu melihatnya, berujar “Taㅡtaㅡta!” dengan riang seolah itu nama Prim. Sial sekali, sudah kedatangan tamu yang tidak disenanginya, ditambah panggilan aneh khas bayi. Mendadak, Prim lupa kalau ia juga masih digolongkan bayi.

.

.

.

Hari pertama sekolah dasar merupakan sesuatu yang menegangkan sekaligus menyenangkan. Prim dapat melihat Taehyung dengan kacamata berjingkrak-jingkrak senang di depan rumahnya. Iya, Prim tahu kalau memerhatikan anak itu memang menyebalkan. Tetapi apa boleh buat kalau rumah Taehyung berada tepat di depan kediamannya. Selain itu, Prim menyayangkan ketiadaan pagar di sana dan di sini. Dia kan jadi terlalu mudah melihat Taehyung, dan itu sama sekali tidak bagus.

“Hai, Prim!”

Taehyung berujar dari sana, melambai sembari tersenyum. Agaknya bocah itu masih terkena flu, dan Prim benar-benar jijik ketika melihat ingus bening di antara hidung dan bibir atas Taehyung. Ew, ibunya sudah berkata untuk selalu membawa tisu atau apapun itu.

“Oh, hai, Taehyung.” balasnya, datar.

Ayah Prim tengah mengikat dasi ketika melihat putrinya berwajah begitu. Ia terkekeh kecil, lantas mengusap pucuk kepalanya.

We’d rather go now, I guess?” tawarnya, lalu Prim mengangguk. Seolah berkata lebih cepat lebih baik. Tetapi sebelum mobil ayahnya keluar dari area parkir, ibunya sudah lebih dulu berlari dari dalam.

Honey, please take Taehyung with you, okay?

Ya, hari pertama sekolah seharusnya menyenangkan. Tetapi jadi begitu traumatis di benak seorang Primrose. Padahal Taehyung nampak baik-baik saja. Ia tidak menggigit, pun bertingkah rewel. Ia hanya melambai pada ibu Prim, lalu menikmati semilir angin dari jendela mobil yang dibiarkan terbuka. Bagi Prim, yang menyebalkan adalah lambaian tangan itu. Pokoknya, seorang Taehyung itu menyebalkan.

.

.

.

Psst! Psst!”

Prim terbangun dari tidurnya di suatu malam yang disinari bintang-bintang. Usianya enam belas tahun, hormon khas remaja menyeruak di mana-mana. Hampir saja ia meledak dalam emosi ketika sadar itu Taehyung dari jendela seberang.

Psst! Prim!”

“Ada apa, Tuan Taehyung?” tanya Prim, pura-pura mengucek mata. Taehyung di seberang sana hanya membetulkan letak kacamatanya. Lalu ia berbisik keras, “Maafkan aku, ya. Sebetulnya aku tahu kau tak senang diganggu, tapiㅡ”

“Taehyung,” sela Prim, dan pemuda di seberang berhenti berbicara panjang. “Bicara langsung ke intinya.”

Ada jeda setelah itu. Prim melihat Taehyung mengangguk-angguk di kejauhan ㅡyang uh tidak sejauh itu juga, sih. Gerak-geriknya begitu gelisah, ia jadi curiga kalau Taehyung melakukan sebuah kesalahan fatal. Prim hanya berharap dia tak membunuh kucing si penjaga sekolah.

Well, aku mempunyai perjanjian dengan teman-temanku, Prim. Mereka mengatakan padaku untuk mengajakmu ke pesta tahunan kakak kelas kita. Ya, kau tahu, semua siswa harus ikut. Danㅡdan kata mereka aku, aku harusㅡ”

“Kenapa kau menuruti mereka?” Prim tidak menyela kali ini. Ia menyambung kalimat Taehyung yang terhenti beberapa detik dengan sebuah pertanyaan.

Ya, mereka bukan anak kecil lagi. Prim enam belas dan Taehyung lima belas tahun. Ia masih tak mengerti mengapa pemuda itu terlalu lugu. Maksud Prim begini, sifat Taehyung terlalu polos di matanya. Prim tahu bagaimana cara teman-teman mereka memperlakukan Taehyung, meski pemuda itu sendiri selalu berbuat baik, sekaligus murid cerdas di sekolah. Melihat dan mendengar itu semua, sudah mampu membuat Prim geram. Menurut gadis itu, pergaulan yang dialami Taehyung amat salah. Tidak seperti dirinya yang cenderung menyelesaikan masalahnya sendiri.

“Akuㅡaku tidak tahu.” jawab Taehyung kemudian. Lalu mereka dicengkeram geming yang melintasi ruang. Prim sibuk memerhatikan Taehyung dan surai cokelatnya. Ia tenggelam dalam pikirannya sendiri sampai Taehyung kembali bersuara. “Prim, kau masih di sana?”

Gadis itu tidak menjawab ‘Ya’ atau ‘Tidak’. Dia beranjak dari ranjangnya, lantas cepat-cepat sampai di halaman depan rumahnya. Ia melempar kerikil kecil ke langkan kamar tidur Taehyung. Lalu pemuda itu merunduk ke bawah, menemukan Prim yang menengadah sembari berkata, “Cepat turun!”

.

.

.

Angin khas tengah malam menerbangkan surai keduanya. Taehyung langsung merapikan rambutnya, tetapi begitu asal. Sementara Prim masih diam, tidak meningkahi singgungan angin nakal. Mereka mengitari kompleks, agaknya menuju tempat duduk untuk umum di kiri sana. Keduanya menduduki kursi panjang itu, lalu mulai disibukkan dengan pikiran masing-masing.

“Prim,”

Gadis yang dipanggil hanya berdeham, menanggapi panggilan itu dengan tenang. Taehyung di sampingnya bergerak gelisah, Prim tidak tahu mengapa begitu. “Aku tahu kau mungkin membenciku sedari bayiㅡ”

Oh, dia tahu? Pikir Prim kemudian. “ㅡdan aku juga begitu menyebalkan karena selalu menumpang mobil ayahmu. Lalu menginap di rumahmu setiap minggu ketika usia lima tahun, juga mengikuti rekreasi keluargamu. Ah, aku pun sampai mengganggumu malam-malam begini. Aku cuma ingin meminta maaf. Kautahu, rasanya tidak enak sekali masih terus berhutang padamu.”

“Berhutang?”

“Ya, berhutang budi. Aku belum sempat membalas kebaikan-kebaikan itu, tetapi masih memberatkanmu dengan permintaan lagi sekarang. Maaf sekali, Prim. Aku bakal membalasnya suatu saat nanti.”

Mendengar itu, Prim lantas melirik Taehyung yang memandang langit malam. Tanpa sadar, ia pun berbuat demikian. Hei, Prim baru tahu kalau Taehyung punya kebiasaan yang sama dengannya. Mungkin, kenyataannya Taehyung tidak semenyebalkan apa yang ia pikirkan. Ideologinya selama ini agaknya terlalu bodoh, Prim harus mulai membuka diri untuk itu.

“Jadi, bagaimana?” tanya Taehyung, dan gadis di sampingnya nampak berpikir keras. Tetapi itu semua tidak berselang lama sampai ia mengangguk dan sesuatu dalam diri Taehyung berharap Prim tak menyesal telah menerima ajakannya.

.

.

.

“Prim?”

Gadis itu terbangun dengan kepala pening luar biasa. Sumpah mati, Prim menjamin ia merasa dunia begitu berputar. Agaknya tadi ia masih di rumah, telah menyiapkan diri untuk datang ke pesta tahunan. Ia ingat Taehyung menjemputnya dan mereka pergi ke sekolah bersama. Oh, ia juga masih ingat si Tae itu memakai tuksedo bagus dan ia melepas kacamatanya. Prim berani bertaruh ia melihat Taehyung menggunakan soft-lens sewarna matanya. Irisnya cokelat pekat, sama seperti Prim. Lalu ia menata rambutnya ke atas, dan itu membuat si gadis yakin mungkin anggapan teman-temannya pada Taehyung akan berubah. Mungkin setelah ini seorang Kim Taehyung akan diterima dan tak lagi mendapat perlakuan jelek. Ya, ia harap begitu.

Tetapi begitu ia selesai dengan pandangan positifnya mengenai Taehyung, ia kembali sadar bahwa ia bukan di sekolah atau pun rumahnya. Prim dapat mendengar tawa lelaki dengan jelas. Hei, ada Taehyung di dalamnya.

Ia menoleh ke sekitar, ia masih memakai gaun tertutup berwarna biru malam. Tetapi agaknya surainya tak lagi terikat jadi satu. Prim ingin sekali menebak ia di mana. Tetapi itu terlalu sulit. Pandangannya begitu buram. Lalu perutnya mual. Seperti ia telah menenggak racun serangga dan lupa meminum susu.

“Oh, lihat! Si bisu telah sadar!” ujar salah satu dari mereka.

Itu pertama kalinya Prim mendengar seseorang menjuluki dirinya seperti itu. Atau mungkin ia saja yang baru sadar, bahwa selama ini, ia terlalu pendiam dan tak acuh. Prim merasa orang-orang itu memperhatikannya, lalu ada seorang pemuda berdiri di hadapannya. Pemuda itu seperti sempoyongan, tapi Prim seolah tak bisa berpikir lebih lanjut. Hal yang ia tahu selanjutnya, sirine kencang sudah lebih dulu mendominasi penginderaan. Ia begitu lemas sampai tak bisa bergerak. Lalu semua gelap, ya, semua gelap.

.

.

.

“Bagaimana bisa?”

“Prim!”

“Kenapa, Taehyung?”

“Prim! Sadarlah!”

“Mengapa dari semua orang, harusㅡ”

“Prim!”

Prim tersadar setelah namanya disebut tiga kali. Well, untuk melepaskan diri dari lelapnya saja sulit sekali. Gadis itu berada di ruangan putih dan hijau. Pandangannya masih rabun, tapi masih dapat difungsikan lebih baik. Kala itu, ia melihat ibunya menangis. Sesungguhnya itu bukan sesuatu yang bagus untuk disaksikan. Tapi, yah, ketika Prim melihat ayahnya juga bertampang lesu, ia tahu ada sesuatu yang tidak beres.

Ia baru akan bertanya mengapa ketika menyadari sesuatu mengekangnya berbicara. Sebuah katup oksigen.

“Ibu,” katanya. Wanita itu langsung mendekat, namun tak sanggup menyentuh putri semata wayangnya demi menghangatkan batin. “Kenapa, akuㅡakuㅡuh, kenapa?”

Prim menertawakan dirinya sendiri. Kemampuan berbicaranya seperti orang tolol, ia bahkan tidak tahu mengapa.

Lalu ingatannya kembali pada suara-suara yang ada sebelum ia dapat membuka mata hari ini.

Drugs. Anak Anda ditemukan bersama tujuh lainnyaㅡyang kesemuanya laki-lakiㅡdi samping area sekolah. Hanya dia yang tak sadarkan diri, sisanya masih dapat berkomunikasi meski hanya sebuah konversasi kolot.”

Prim merasa matanya kembali berat dan ia tertidur lagi. Mungkin berlalu dua hari, atau bahkan lebih? Dia tidak dapat memperkirakan waktu dengan benar. Karena begitu ia sadar, ia menemukan secarik kertas di balik telapak tangannya.

Kau mungkin bakal bertanya mengapa kau di sini, atau kenapa kau tak kunjung keluar dari rumah sakit. Well, jika kau ingat konversasi kita sebelumnya, dan acara Pesta itu, aku ingin kau menyadari sesuatu. Prim yang Pintar, aku bahkan tak sepenuhnya pernah diperbudak di sekolah. Kau terlalu kaku dan pendiam, sampai-sampai mereka yang kau anggap mengerjai dan memusuhikuㅡsayangnya, mereka sahabat terbaikkuㅡ membuat taruhan dengan hadiah maksimal. Tebak apa? Ya! Kau jadi bahan taruhan kali ini. Dan karena aku mampu membawamu, aku memenangkan hadiahnya. Tapi kau tahu bukan kalau aku bukan seseorang yang pelit? Jadi aku membagi hadiahku dengan enam lainnya, juga padamu, dan kita semua berpesta. Kuharap kau senang. Dan, ya, inilah balasan dariku atas semua kebaikanmu di hari lalu.

Terima kasih, Prim! Aku tahu hadiahku dapat membuatmu bahagia sepertiku dan teman-teman. Candu itu begitu nikmat, omong-omong. Terima kasih juga untuk semua tatap hina dan kebencian semenjak aku mengenalmu.

Salam hangat,
Taehyung.

Tangannya mengepal, meski ia langsung merasa lemas. Prim tidak pernah tahu ini balasan Taehyung. Sial! Segala topeng itu, alibi itu, Prim muak hanya dalam sekejap. Ia baru akan membangunkan diri ketika seorang pemuda menghampiri kamarnya, memandangi dirinya dari jendela. Awalnya ia biasa saja, sampai ia mulai terusik. Karena tatapan itu, iris cokelat itu, merupakan Kim Taehyung yang sesungguhnya tak pernah lugu. Pemuda itu menyeringai. Lalu ia menunjuk secarik kertas yang ia bawa sedari tadi. Detik ketika Prim membacanya, ia tahu kalau berteriak merupakan suatu hal yang wajar.

.

.

.

Selamat datang di Bangsal Rehabilitasi! Mari bersenang-senang bersamaku sepanjang tahun, Primrose.

| Fin.

4 thoughts on “[Vignette] Of Diminishing and Behavior Things

  1. oke, ini menakutkan sekali. biasku V ternyata sekejam itu uwaaaaa. aku suka ff yg kamu tulis, semuanya dari kata-kata nya. pokoknya semuanya, sepertinya aku harus manggil kaka ya? hehe. aku menemukan kaka ini pas ga sengaja bca fanfiction di IFK

    • halo, Trisha! Selamat datang di sini, haha.😀 Wua maaf banget ngebuat V jadi kayak gini :” gatau kenapa tapi emang pas nulis aku lancar banget, mungkin karena Bwi bullyable ya :’)

      Horee! Aku seneng kalo kamu sukaaa. Aku lagi jarang nulis soalnya dan melihat masih ada yang komen fic ini :”) seneng banget hehe

      Oke salam kenal aku Dhila dari line 98. Kalo kamu 99line ke bawah silakan panggil kakak:) asal jangan onni atau apalah itu. Hehe iya aku salah satu scriptwriter di sana😀
      Salamkenal yaa, Trisha

  2. loren baca ff ini lagi jadi keinget somethin’ eh omong omong loren mau dishipin ama dek jungkook aja deh ya kan loren ama kook banyak tuh persamaannya. coba deh ya dipikir pikir dulu usulan loren monggo *tebarketjupbasahmark*

    • HAHAHAHAHAHA

      Udah gue duga ada cacat di kalimat bokapnya. Soalnya sebagai murid sma yang tau hierarki di sekolah, apalagi buat kapten, apaya, gaasing aja gt sih masa iya dia sepolos itu. soalnya setau gue di ekskul itu gak ada yang polos. Di sma tuh gak ada yang polos, tapi kalo yang cuma tau, ada.

      ENGGA YA CHINGU MAAF SEKALI. Tidak ada couple yang available buat kamu :)))) Kalo mau Jimin, udah tuh, harga mati no tawar no diskon.

      c u!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s