#8 End.

DoubleDrabble

Feat. Giella and Hansol Vernon

Family, Angst, Tragedy, Dark | General | 200 words

 

Lalu si gadis berjuak dengannya, di tempat itu,

tepat di tengah kabut khas dini hari.”

 

.

.

.

 

 

Gie melempar tatap pada kabut di sekitar. Gadis di pengujung usia lima belas itu menggenggam udara kosong, sekaligus mengeluarkan sumpah-serapah pada apapun itu yang ada di hadapannya. Isi kepalanya berputar, di saat yang bersamaan kacau dalam bayang hitam seorang Hansol Vernon. Semakin kabut itu menjauh, semakin ia temui figur si pemuda di hadapan. Tangisnya pecah dalam hening yang mengikat, sekaligus diselingi cengkeramannya pada kerah kemeja pasangan kembarnya itu.

Sesak di dada memuncak ketika dia berkata. “Hari ini, aku melihat kematianmu, Hansol.”

 


 

Cerapannya memang selalu berbeda. Tetapi seorang Hansol tak pernah menyesali segala tatapan pasangan kembarnya pada setiap makhluk hidup di sekitar mereka. Ia akan ada di waktu malam, menemani lelap sang adik, pun membantunya melepas segala frustasi dengan rengkuhan pengantar tidur. Gie bukan kaum gipsi, ia hanya menerima kutukan, di mana sepasang netranya mampu melihat kematian seseorang. Sayangnya, meski mereka lahir dalam kurun waktu yang nyaris bersamaan, Hansol tak punya kemampuan sejenis itu. Pagi ini, ketika Gie mencengkeramnya, ia bergumam, “Aku akan selalu hidup, Gie.”

Ia merengkuh pasangan kembarnya, membagi tangis yang sesungguhnya nyata akan kegamangan, pun saru akan kenyataan.

Fin.

 -and when those all appeared, neither of them knowing what will happen with the rest of their additional life-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s