[Ficlet] Of Monitoring and Befriend With

image

Cast; Jeon Jungkook and OC | Genre; Daily Life, Fluff | Rating; Teen

Suatu hari aku bertanya, mengapa aku selalu berada di sampingnya?

Ada banyak sekali kata mengapa atau bagaimana bisa. Banyak di antaranya yang tidak aku mengerti. Maksudku, hei! Aku dipertemukan dengan seorang bocah lelaki bernama Jeon Jungkook waktu usia kami masihlah tiga tahun. Aku ingat hari itu, pekat irisnya, gelap surainya, semuanya. Lalu kami tumbuh bersama, menjelejahi lorong-lorong sekolah sampai aku maupun dirinya mendapatkan surat kelulusan sekolah akhir.

Suatu malam kami terjebak di antara ruas langkan yang memang bersebelahan. Jungkook mencerap bintang di langit, sementara aku tenggelam dalam panorama alam yang begitu menarik. Kadang kami membicarakan astronomi, filosofi, atau musik dan buku baru. Tetapi hari itu berbeda. Jungkook menerbangkan sebuah burung kertas, memasuki wilayahku dan aku tak perlu repot untuk mengambilnya. Aku membisikkan kata-kata, lantas burung kertas itu membuka dengan sendirinya, menyuarakan apa yang Jungkook sembunyikan di dalamnya.

“Kau terlalu penasaran, Light.” ujarnya, sedikit mempertahankan apa yang ia sebut sebagai karisma. Aku meliriknya, setengah jengkel.

“Penasaran bukan kata yang tepat, Jungkook. Aku memberikan atensi yang cukup padamu, itu tadi lebih kepada apresiasi.” sambungku, kontan melepas gelak tawa yang sempat dipendam.

Waktu malam selalu menenangkan, sekaligus mengaburkan pikiran kami dari apa-apa saja yang sudah mengganggu hari. Begitu menyenangkan, karena hanya di malam hari baik aku maupun Jungkook dapat memainkan kekuatan kamiㅡtanpa perlu membuat orang awam keliru.

Aku menunggu, tetapi burung kertas itu tak juga bersuara. Jungkook masih sibuk memperhatikan bintang. Sejatinya dia memang benar, aku terlalu mudah penasaran. Kemudian burung itu mulai bersuara, meski hanya gema potongan kertas menjadi serpihan kecil.

Well, itu tidak lucu, Jeon Jungkook.”

“Memang tidak. Tapi seharusnya kau melihat bagaimana raut wajahmu itu, Light.” Dia tertawa setelah berkata begitu, membuat aku kesal setengah mati.

Kemudian Jungkook kembali menerbangkan helai demi helai kelopak bunga. Aku tak sudi lagi menoleh, namun Jungkook tahu aku tak benar-benar serius. Ia membuat kelopak-kelopak itu berubah menjadi kembang api, menyala-nyala selayaknya satu yang asli.

“Selamat ulang tahun, Light. A simple yet sweet birthday presents, I guess?

Tatapannya begitu jenaka untuk ditolak, dan aku terlanjur urung untuk berbuat begitu. Bersedekap, diam-diam aku berterima kasih pada eksistensi seorang Jungkook itu sendiri.

Ulang tahunku masih dua belas menit lagi, namun sebongkah perayaan itu laiknya berlian bagiku. Sesimple itu, sampai aku lupa mengapa presensi Jungkook selalu kupertanyakan. Nyatanya, senyumnya terlalu manis untuk dienyahkan, pun dengan renyah tawanya di waktu malam. Karena, aku, sesungguhnya terlanjur jatuh pada segala sorot jahil itu.

Well, aku juga berharap kau bakal dapat pasangan yang sesuai,” Jungkook tertawa, mungkin mengejek. Aku baru saja akan menyumpahinya sederet mantra ketika ia kembali melanjutkan, “Seperti aku, mungkin?”

Uh, terserah kau sajalah, Jun.

| Fin.

A/N:

Um, Happy Birthday to my self? Hehe. Wish all the good wishes come true!

November 9th, 2014

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s