[Vignette] Of Raindrop and Longing Feeling

of raindrops and longing feeling

Scriptwriter : dhiloo98 | Main Cast : [OC] Cherry Blossom, [iKON] Jung Chanwoo

Genre : common life!AU, Sad

| Duration : Vignette (1010 words) |

| Rating : General |

Tahu-tahu ia memeluk selimut, menangisi entah siapa yang dirindukan.

Dan ketika petang menyapa, tubuhnya justru basah akan air hujan, tetapi tidak dengan kedamaian tiba-tiba di hatinya.

Pukul sebelas lewat beberapa menit dan ayahnya belum juga pulang dari bekerja. Cherry menggeram di atas tempat tidurnya. Bukannya tidak mungkin ia melanjutkan lelap, hanya saja berbongkah sesak secara kontan menyapa waktu malamnya. Gadis dengan surai cokelat terang itu mencengkeram selimutnya, membentuk garis tipis dengan merapatkan bibirnya. Malam itu Seoul turun hujan, tidak seperti malam-malam di bulan Desember lainnya. Tetapi bagi Cherry malam itu bukan sesuatu yang ia harapkan. Gadis itu sendiri lebih menunggu salju ketimbang hujan. Jadi tiada lagi yang bisa ia lakukan selain mengeluhkan suhu rendah dan tubuhnya yang menggigil. Meski di balik semua itu, Cherry menikmati bagaimana sensasi dingin yang melingkupi tubuhnya tinggal berlama-lama. Ia menyukai aroma alam, mengkonsumsi kebahagiaan hanya dengan terpaan angin malam.

“Ah, aku bisa mati bosan.” Ceracaunya, melebur bersama partikel udara. Cherry berguling ke sana dan ke mari, mencoba apa saja yang bisa melepaskannya dari kukungan rasa sesak. Gadis itu baru berhenti ketika dilihatnya angin berembus kencang di luar jendela.

Butuh waktu lama untuk kembali ke pikirannya yang utuh, karena selama beberapa menit terakhir pikiran gadis itu sibuk berputar-putar. Terkadang ia merasa muak akannya, mengingat hal itu tidak datang satu atau dua kali. Maniknya berkelana menuju sisi lain dinding kamarnya. Di sana terpampang lukisan abstrak yang memiliki arti tersendiri. Cherry meringis melihatnya. Bagi orang-orang awam, tentu saja itu merupakan sebuah hasil karya paling luar biasa. Ia tak jarang mendapatkan pujian dari orang-orang yang tidak mengerti. Mereka tak pernah tahu, bahwa semua coretan warna itu; ialah apa yang selama ini kedua netra milik Cherry cerap.

Dunia tidak pernah sama untuknya, tidak pernah dapat disandingkan dengan sudut pandang orang lain. Bagi mereka, dunia ini memiliki banyak sekali objek dan subjek, tetapi bagi seorang Cherry, semua itu hanyalah kepulan asap pekat yang berwarna-warni, lalu berubah semakin tipis setiap waktu kehidupan sudah semakin mendekati kematian. Gadis itu membuang napas keras, lelah akan semua ini.

Kelopaknya memejam barang sejenak, lalu tiba-tiba saja air mata mengaliri sisi wajahnya. Malam itu, seorang Cherry Blossom menangis keras-keras, membiarkan sesak di dadanya menguasai diri, merelakan hatinya hancur ditindas perasaan itu. Sejatinya ia selalu seperti itu, secara tiba-tiba menangisi sesuatu yang bahkan tidak pernah diketahuinya. Cherry merindukan seseorang yang bahkan tidak ia ketahui siapa.

Saat itu, ditemani dinginnya udara, ia membiarkan air mata menguasainya. Tetapi, Cherry pada akhirnya akan mengetahui, bahwa saat itu, ia merindukan orang yang di detik berikutnya mengembus napas terakhir, juga seseorang lagi yang berada jauh di luar jangkauannya.

Ayah dan ibunya.

.

.

.

Gemerencik air memadu pendengaran seorang Cherry Blossom begitu gadis itu berhenti mengemamkan hal-hal tidak biasa. Detikan jarum jam dari sudut dinding menambah sunyinya ruang, memaksa netra kokoanya menyapa kaca jendela yang kini dialiri air hujan. Gadis dengan surai cokelat pekat itu menyisir lantai kayu flatnya pelan, sampai tangannya memutar knop pintu. Pada saat itu, Chanwoo tahu-tahu sudah berdiri di luar. Pemuda itu berwajah bingung, tetapi tak urung memberi Cherry sebuah senyum yang agaknya bodoh.

“Maaf, aku terlambat lagi.” Katanya, meminta pengertian. Tapi toh Cherry sudah tahu bahwa laki-laki itu selalu bersikap begitu. Menjadi tetangga dekat seorang Jung Chanwoo selama waktu hidupnya selalu membuatnya mengerti bagaimana lelaki itu berkelakuan.

Seolah membiarkan permohonan maaf Chanwoo ditelan angin, Cherry lekas-lekas membuka daun pintu lebih lebar. Ia mempersilakan lelaki itu masuk, meski kepalanya justru menunduk. Seperti biasa, Chanwoo tak beratensi, jadi dia melangkah masuk ke dalam dengan santai, bertemu dengan sofa bundar di ruang tengah rumah si gadis. Chanwoo tidak pernah menyadari, bahwa sedari tadi, meski sulit memaafkan keterlambatannya, sesungguhnya Cherry memerhatikan jejak-jejak air yang dibuat olehnya. Pemuda itu basah kuyup, namun berpolah seolah kering kerontang. Cherry membentuk selengkung kurva tipis pada bibirnya, membiarkan penantiannya ditambahi rasa khawatir.

“Kamu baik-baik saja?” tanyanya, dan Chanwoo menoleh cepat-cepat.

“Baik, tadi habis bertengkar dengan Shannon, tapi kamu tahulah, aku masih tetap baik-baik saja.” Jawabnya, tersenyum seperti idiot.

Chanwoo sudah lebih dulu duduk, tetapi Cherry yang tadinya mengikutinya menuju ruang tengah, justru kembali ke pintu depan. Pandangan gadis itu tidak pasti, buram akan air mata. Langkahnya pelan, hampir tidak dipertimbangkan. Chanwoo sudah berjanji untuk menemaninya selama beberapa hari setelah ayahnya pergi bekerja kapan hari, tetapi yang Cherry dapati hanya segenggam angan kosong. Tidak ada pemuda itu, tidak ada Jung Chanwoo yang semestinya menambahi agenda waktu lengangnya. Pemuda itu nyatanya memiliki urusan sendiri, mempunyai sesuatu yang lebih penting ketimbang dirinya. Cherry meringis, memangnya siapa sih yang mau bersukarela menemaninya. Selain Chanwoo, tentu saja.

Cherry memejam begitu jemarinya dibasahi air hujan. Guntur di langit tidak mengurangi keinginannya bersama hujan, dan aroma tanah yang basah justru membuatnya kian rela berlama-lama.

“Cherry, kukira kamu tidak berniat main hujan,”

Chanwoo di belakangnya berkomentar, tetapi Cherry urung menanggapi. Ia menambah langkah, kali ini helai surainya yang disinggung air. Gadis itu tidak keberatan, kalau perlu, biarkan hujan membawa dukanya sepenuh hati. Biar hujan mengaburkan air mata yang menetes pada sisi wajahnya. Karena sesungguhnya, di samping memiliki ayah dan ibunya, hanya Chanwoo yang ia harapkan. Dan karena kini lelaki itu tak mampu lagi berada di dekatnya seperti biasa, Cherry ingin rintik air yang menjadi kawan barunya.

“Ayah dikabarkan meninggal kemarin.” ceraknya, cenderung pedih.

Chanwoo bungkam, berharap salah mendengar kata-kata Cherry di balik cerau hujan. Tetapi agaknya itu semua hanya spontanitasnya sebelum tahu-tahu tangannya sudah berada di bahu sahabatnya sedari kecil itu. Cherry menghadapkan muka padanya, berceracau sarat arti sembari menangis. Pandangannya telak mengarah iris Chanwoo, dan pemuda itu tidak punya sesuatu apapun yang bisa dilakukannya selain membiarkan hujan membasahi mereka berdua. Ia menutup kedua kelopak mata sahabatnya dengan kedua telapak tangan, lantas berseru, “Jangan melihat lagi, Cherry. Kematian tidak akan mengganggumu lagi hari ini. Tidak selama aku masih berada di sekitarmu.”

Cherry memejam, mengetahui alasan di balik pengharapannya pada seorang Jung Chanwoo. Satu yang menjadi fondasinya merekat satu sama lain tanpa rasa canggung. Karena pemuda ini tahu. Pemuda ini tahu bahwa kedua netranya dapat menjangkau kematian, dapat melihat bagaimana kelabu dan percikan uap warna itu ialah pertanda dari sebuah akhir dari kehidupan.

Karena di antara semua orang dengan tingkat ketidak acuhan yang tinggi di dunia ini, Chanwoo satu-satunya yang paling mampu mengerti bagaimana seorang Cherry Blossom menjalani kehidupannya. Satu-satunya yang bisa mencairkan titik beku di relung hatinya, satu yang dengan sukacita menghangatkan hati yang kedinginan.

Fin.

7 thoughts on “[Vignette] Of Raindrop and Longing Feeling

    • Twinnie! :’) TAU ENGGAK KEMAREN AKU ISENG BUKA BLOG I FOLLOW GITUKAN YA (itu halaman direfresh pas hari jumat dengan wifi sekolah, setelahnya ya aku off di hp heuheu) TERUS MENEMUKAN KALO KAMU MENULIS MAS BRODIE SANGSTER AIGU!

      Tau enggak…. aku jejingkrakan baca itu…… karena…… kita sesama penyuka si mas…. :” aku tau dia dari nanny mcphee ahihihi oldstory😀

      • HAIIIIII MY SWEETEST TWINNIEW!❤ maafkan daku baru sempet balik sekarang. kemarin mau komentar, tapi modem kuotanya abis huhu jadi baru sempet ngisi sekarang hehehe

        HE KAMU JUGA SUKA MAS THOMAS? YHAAA GIMANA HABISNYA DIA ITU DISTRACTION BANGET KAN, DHIIIILLL. AKU GEMAS KALO LIAT MUKANYA. GEMAS SEKALIIII. OH NANNY MCPHEE YA AHIHI SUDAH LAMA SEKALI FILM ITU❤ rasanya aku pengen culik mas thomas terus kurung di lemariku aja heuheuheu apalah oppa dibanding mas thomas ;;w;;

        ahem. oke. aku harus kalem.

        JADIIIII MY TWINNIE IS BACK. tulisan kamu sudah kembali, dhil! di sini suasana pekat yang biasa itu muncul lagi pas aku baca. kata-kata kamu juga manis sekali. mewah, tapi nggak kehilangan esensi dari tulisan itu sendiri (nggak kayak aku yang kalo pake diksi mewah langsung buyar) (huhu) pokoknya ini yang aku suka sekali hehe

        aduh ini angst banget loh, dhil. aku keiris banget bacanya. mana kan settingnya hujan, jadi tambah mendukung. terutama bagian cherry nangis di kamarnya terus dia ujan-ujanan. dan terakhir ternyata…. papanya meninggal. aduh gila, sakit banget bacanya😦 kamu sukses nyampein perasaan gloomy ke pembaca. terutama perasaan longingnya itu, dhil! aku kan baca sambil baca lagunya mas lulu yang ost filmnya dia itu, aduduh kerasa banget longingnya. pokoknya kamu sukses bangeeet!

        cuma tadi aku nemu ini: mengkonsumsi. itu bukankah seharusnya mengonsumsi? kan k lebur hehehe tapi aku tau itu kamu cuma kepleset doang, iyakan? hihi xD

        oke, twinnie kayaknya commentnya aku cut sampe sini aja daripada nanti aku makin rambling terus malah ngespam di kamunya. pokoknya kamu semangat terus yaaa! keep writing, dhilaku sayang! I LOVE YOU FOREVER!❤ HIHI

  1. HALO DHILA! LONG TIME NO SEEEE~ Jadi sebenarnya aku udah baca tweet buat posting ini di twitter tadi atau kemarin, aku lupa tapi baru sempet on pc hehehe.

    Dari judulnya aku udah sukak banget soalnya apa ya.. kaya langsung berasa angst gitu terus terus YA AMPUN DHILA ITU NAMA CHERRY BLOSSOM LUCU BANGEEEET Berasa lagi baca novel teen terjemahan. Gatau kenapa pas baca nama Cherry langsung kepikiran kepribadian anaknya yang ceria tapi rapuh di dalam//eaaaak

    Jadi scene pertama itu semacam… ‘kangen tapi gatau siapa yang dikangenin’ IYHA ITU AKU BANGET YES LANGSUNG KETAUAN DEH HELMY SUKA GALAU GAJELAS

    Okay, bahasa kamu enak banget Dhil. Semacam udah lama banget enggak baca tulisan kamu terus pas baca lagi sekarang, WOW, beneran udah beda dan berkembang!🙂

    Nice story Dhil :))

    • WOYYY SALAM RAWR SISTA!
      heuheu miss ya delapanation :”) hehe semalem,myyy. mumpung semalem hujan aku jadi lanjutin fic ini terus edit poster abal aigu memalukan, terus post deh hehe. minimal ini wp gak sepi-sepi banget laah😄

      EEEEEEHEHEHEHE
      Sebenernya pembukaan yang Cherry sampe ayah dan ibunya itu mau kujadiin kerangka novel. tetapi……. saat hujan di sore hari….tetiba Chanwoo datang membelai ide hahaha jadi ya aku gugurkan lah dari kerangka novel ke intro fic.

      YEHEHE Waktu nulis yang pembuka itu juga aku lagi gatau ya menangesh saja rindu entah rindu siapa. Kurasa itu common feels sih, pasti orang-orang juga udah ngerasain rasanya tetiba kangen tapi gatau ngangenin siapa.

      Hurayy alhamdulillah :”) buatku ini hanya seonggok wordvomit yang tiada berciri khas tapi aku seneng kalo ini udah berkembang ^^ iya ya dulu kan tulisanku…….(mengingat zaman purba dhiloo98)

      Thanks Helmy udah dateng udah baca udahkomenaheuheu kukira ini tak akan terjamah pembaca :””””””” LOVEYAAAAAAAAAAAAAA

  2. Hai Dhila… aku gak tau kamu masih inget aku atau gak, tapi kemarin kepikiran aja pengen baca ff kamu lagi. dan pas buka blog langsung nemu ini. Chanwoo ah, brondong cakep pengertian banget sama sahabatnya. jadian aja lagi, kan udah lama kenal haha. tapi sedih banget lho Dhila, sekarang Cherry cuma bergantung sama Chanwoo. semoga dia gak bener2 ninggalin Cherry nantinya.
    tetap berkarya ya, aku suka tulisanmu😉

    • HAI KAKAAK! Its been a long time! Inget dong! Masa aku lupa:’D Cuma aku lupa nama asli kakak, hehehehe.

      IYA NIH SI CHANU:( gereget banget basah-basahan demi Cherry huhu. Meski dia telat sih karena harus nomor satuin Shannon dulu. Adu pokoke mas Chanu biarpun cuma sahabat, tapi bikin aku baper parah. Apalagi pas nulis:(

      Iyaa! I hope so! Chanu baik banget heu;;; baper kali woy.
      Hehe makasih, kak! Aku seneng masih ada yang suka tulisanku dan masih berbaik hati komen! Apalagi ada yang kangenin:’) thats very kind of you, kakaak. Thank youuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s