Innocence

tumblr_nvyp0oeJpm1r8vpj5o1_500

Innocence.

Starring Red Velvet’s Yeri & Seventeen’s Dino a.ka Chan

Daily Life, Fluff

By dhiloo98

Note : please listen Yiruma’s Maybe while reading this. Enjoy.

.

Aroma musim semi diterbangkan dedaunan di taman kompleks. Yerim mengayuh sepeda barunya memutari jalan, terkekeh kecil setiap angin sore melewatinya. Hari itu sama saja dengan hari yang lain. Libur yang berkepanjangan memang sesuatu yang menyenangkan sehingga Yerim akan meminta ijin keluar setiap sore. Ibunya mengangguk, lalu tersenyum pada gadis kecil dengan surai diikat dua itu.

Bunga-bunga di taman menggelitik rasa penasaran gadis itu ketika ia memutar untuk yang ke sembilan kali. Lantas ia tak lagi membuang waktu, lekas-lekas ia menghampiri warna-warna indah itu. Namun, seperti Kim Yerim yang biasa, kayuhan sepedanya tahu-tahu macet, dan detik berikutnya Yerim sudah menemukan dirinya jatuh. Lututnya luka, air mata berkumpul di pelupuk matanya. Yerim hendak menangis kalau saja uluran telapak tangan tidak merenggut fokusnya.

“Bangun, Yerim.”

Yerim meringis, menerima uluran tangan bocah lelaki di depannya. Ia memandang ke mana pun selain penolongnya. Ya ampun, Yerim tidak mau menerima konsekuensi digoda habis-habisan setelah ini. Itu ‘kan Chan; teman satu taman bermainnya yang dikenal usil dan suka mengajaknya berkelahi.

“Yerim?”

“Eh –ya?”

Chan menaikkan sebelah alisnya. Anak lelaki berkaos abu-abu itu menahan tatap mereka dalam waktu dua detik sebelum mempertunjukkan senyumnya. Yerim diam, fuadnya tak tanggung-tanggung melambung. Itu pertama kalinya Chan tersenyum tanpa maksud lain –setidaknya itu yang Yerim pikirkan.

Setelahnya Yerim tak sadar bermenung sampai ia meringis, kontan menjauhkan lututnya dari sapuan jemari Chan yang rupanya telah berjongkok di hadapan.

“Kalau kotor bisa infeksi, tahu,” Anak lelaki itu mendongak, bertemu tatap dengan Yerim yang memandanginya bingung. Lantas ia menunjuk luka di lutut si gadis, “Lukamu. Kalau tidak dibersihkan justru akan lebih parah.”

Yerim tidak mampu membalas ucapannya, gadis usia lima tahun itu hanya mengangguk. Lalu menggumam “Eo,”

Yerim mendengar bocah di hadapannya mendecak, lalu ketika ia sadar kembali, Chan sudah membersihkan luka di lututnya dengan air. Yerim baru akan bertanya dari mana ia mendapatkannya sebelum dilihatnya Chan telah berlari kecil menutup kran di sisi kanan taman, dua meter di dekat mereka.

Begitu ia kembali, Yerim buru-buru menunggu waktu. Ya, dia sudah tahu kalau Chan tidak mungkin menolongnya tanpa menertawai, lebih-lebih mengejeknya habis-habisan. Namun yang didapatinya justru tubuh Chan yang membungkuk, memasangkan plester pada lukanya. Ketika Chan berdiri kembali dan tersenyum kepadanya –menunjukkan gigi-gigi putih dan gusinya yang merah muda- Yerim baru sadar ia menahan napas. Belum sempat ia mengucap apa-apa, Chan sudah lebih dahulu berkata, “Sudah membaik, kan?”

“Uh, ya. Terima kasih.” katanya, terputus-putus. Yerim gugup. Sedikit gusar bersarang di dadanya, memikirkan kebodohannya yang sempat berpikir kalau Lee Chan berniat buruk pada awal pertemuan mereka hari itu.

Lee Chan mengangguk, membenahi sepeda Yerim yang sedari tadi dibiarkan mencium aspal jalanan, lantas berkata “Tidak masalah,” dalam volume yang kecil. Ia menuntun Yerim menaiki sepedanya kembali, lalu memasukkan tangannya ke dalam kantung celana selututnya. Sedikit ia tahu, Yerim memandanginya begitu –err, apa itu gusar?

“Chan-a,” Chan melihat Yerim menarik napas, pandangannya khawatir, menuju ke lutut si bocah lelaki. “Lu-lututmu jadi kotor.”

Lee Chan menunduk, melihat lututnya yang disebut-sebut. Bocah lelaki itu menggeleng-geleng, membagi cengiran. Kendati demikian, pandangan Yerim masih sama. Untuknya, Chan menghela napas, lalu menepuk halus kedua lututnya hingga bersih. Ia menaikkan sebelah alis, terlihat menggoda untuk Yerim, “Sudah?”

Gadis di depannya mengangguk, kelihatan canggung. Kemudian Lee Chan mendorong sedikit sepedanya dari belakang, bermaksud menyuruh Yerim segera mengayuh sepedanya kembali. “Pulang sana.”

Yerim nyaris tersedak liurnya sendiri. Uh, seharusnya ia tahu Lee Chan masih menyebalkan. Namun lagi-lagi Yerim menyalahkan dirinya yang begitu seenaknya menuduh Chan. Tatapannya merenung, menembus angin sepoi di beranda rumahnya. Lalu tahu-tahu semburat merah muda merayapi kedua pipinya kala ia mengingat kata yang tadi ia ucap sebelum pergi meninggalkan Chan. Astaga, Yerim benar-benar bodoh!

“Chan –uh- plestermu a-akan kukembalikan senin nanti.”

Ck, sejak kapan plester yang sudah dipakai bisa dikembalikan utuh-utuh, Kim Yerim!?

Fin.

Halo! Halo! Halo!
Udah berapa lama aku gak balik ke sini heuheuheu. Dan begitu balik, langsung degradasi tulisan hehehe, maaf ya semuaaaaaa. Selama ini aku selalu nyempetin buat nulis, kok. Cuma –err, tulisanku jauh dari kata layak. Aku terjebak bosan bahkan sebelum ketemu konflik.
Untuk segenap orang yang suka duo 99 liner ini dan yang soon to be manhi manhi sarangi juseyo. HAHAHA.
With love and pureness (the heck what am I even wrote)
Dhila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s