December, That Night

BAEKHYUN

Baekhyun, Tera Ed // T // Vignette

Summary:

Byun Baekhyun melihat dunia dari dua sisi, sibuk membanding-bandingkan kepribadian orang hingga Tera Ed datang dan membuatnya kesulitan memberi label.

Tidak semua orang yang kau cap jahat itu benar-benar jahat. Ibu bilang hanya ada dua kepribadian di dunia ini; jahat dan baik. Hampir seluruh manusia ingin menjadi si baik. Mereka tampil serba bersih, berbudi luhur dan biasanya akrab. Sejatinya ada banyak yang dapat membuat seseorang dijuluki baik atau jahat. Itu pun tergantung dari skala mana kau mengukurnya.

Pekan lalu, aku kembali mengikuti turnamen olahraga bersama dengan teman-teman lainnya. Hari itu hujan turun dengan derasnya, padahal ini bulan Desember dan aku tumbuh dengan salju yang bergelimpangan di bulan ke duabelas ini. Lapangan sepak bola menjadi sedikit licin. Tetapi, yang menjadikannya masalah adalah penglihatanku yang tertutupi derasnya rintik air setiap beberapa sekon sekali. Pandanganku menjadi kabur, tendangan yang aku lakukan gagal, dan timku kalah. Kedua kakak kembarku mengejek begitu aku sampai di rumah, termasuk juga Tera; gadis yang lahir beberapa hari sebelumku, satu yang tinggal di rumah seberang dan merupakan putri tunggal dari paman dan bibi Ed. Ia menyandarkan pundaknya pada sisi kusen pintu, lantas bersedekap sembari mengunyah permen karet.

“Kalah seperti biasa, Byun Baek.” katanya, setengah tertawa.

Aku tidak kaget mendengarnya berkata begitu. Tera memang demikian. Sedari pertama aku mengenalnya, ia sudah begitu menyebalkan. Jika aku seorang Santa Claus, aku akan dengan senang hati menggolongkannya pada daftar anak-anak nakal setiap tahunnya. Tetapi itu pun tergantung padanya, sih. Kalau ia mau bertingkah sebagai anak baik, mungkin aku akan memaklumi dan dengan besar hati membiarkannya mendapat hadiah di tahun mendatang.

Aku menaruh sepatuku di rak terdekat, lalu membiarkan Tera minggir sedikit agar tubuhku bisa masuk ke dalam rumahnya. Iya, paman dan bibi sudah membuatkan pesta untukku. Tentu saja tanpa memperhitungkan bahwa aku akan kalah. Mereka memang selalu baik, aku tidak mengerti mengapa Tera mempunyai sifat yang berbeda. Karena dia disekolahkan di sekolah yang sama denganku, aku jadi bisa mengenalnya sedikit demi sedikit. Aku sesungguhnya harus bersyukur pada Tuhan, sebab sekolahku dibagi menjadi kelas laki-laki dan perempuan, sehingga seorang Byun Baekhyun tidak perlu repot-repot bersitatap dengan Tera Ed setiap waktu.

“Terima kasih atas makanannya.”

Semua orang di meja makan mengatakan hal itu bersama. Tera yang bersuara paling keras, sepertinya. Kami menikmati hidangan yang disajikan dengan senang hati, lalu dalam hening ruang mendengarkan alunan lagu-lagu Natal dengan khidmat. Kadang kepala Tera terantuk-antuk mengikuti tempo lagu. Kadang pula aku harus rela menyodorkannya air minum dikarenakan makanan tersangkut di kerongkongannya ketika bernyanyi. Ya, semua anak baik tahu waktu makan seharusnya benar-benar digunakan untuk makan, bukan untuk mengerjakan pekerjaan yang lain. Tera tampak tak acuh, gadis bersurai brunette itu masih asyik menyenandungkan bagian lagu yang didengarnya.

Malam itu, untuk kali ke enamnya, Tera kembali tersedak makanannya, dan aku kembali berbaik hati memberikannya minuman. Ia mengerling padaku, entah untuk apa. Begitu aku menyambut tatapannya dari seberang meja, semua tetua di meja itu menyoraki kami bahagia.

.

.

.

Tidak semua orang yang kau cap jahat itu benar-benar jahat. Ibu bilang hanya ada dua kepribadian di dunia ini; jahat dan baik. Hampir seluruh manusia ingin menjadi si baik. Mereka tampil serba bersih, berbudi luhur dan biasanya akrab. Sejatinya ada banyak yang dapat membawa seseorang dijuluki baik atau jahat. Itu pun tergantung dari skala mana kau mengukurnya.

Saat itu usiaku memang barulah mengitari delapan tahun, dan bagaimana cara memilah kepribadian masih jauh dari gapaianku. Tera jadi sosok paling menyebalkan sepanjang yang kuingat, tetapi gadis brunette itu juga tidak mau repot-repot berbaik-hati merubah sikapnya padaku. Jadi, ketika usiaku enam belas dan aku mempelajari psikologi dan sejenisnya, aku memulai kembali permasalahan masa kecil itu.

“Ayolah, Baek. Akutahu kau itu lelet, tapi bukan berarti aku harus menunggumu sepanjang hari, Pendek.”

Tera menendang kaleng soda yang baru saja ia buang sembarangan. Sementara aku masih sibuk memastikan buku-buku yang kupinjam di perpustakaan dengan daftar yang sebelumnya sudah kubuat. Tera kemudian mengambil catatan kecil itu begitu aku selesai memastikan untuk yang ketiga kalinya. Gadis itu berdeham, lalu berdiri dengan satu kaki berdiri tegak dan kaki lain bersandar malas pada yang kokoh. Ia menyandarkan bahu pada salah satu tiang di halte bus. Maniknya bergerak-gerak mengelilingiku. Untuk yang kesebelas kalinya, Tera Ed kembali meloloskan desah napas.

“Dengar, ya, Baekhyun. Buku-buku yang kau pinjam itu seratus persen sesuai dengan apa yang ada di dalam daftar. Dan sekali pun bukunya bukan ekspektasimu, kita masih bisa kembali ke sini esok hari.”

Berikutnya, giliran aku yang berdeham. “Jika kau mungkin lupa, Tera Ed, besok adalah hari Natal dan semua toko juga perpustakaan tutup. Aku tidak bisa meninggalkan tugas ini terlantar begitu saja, demikian pula dengan buku fiksional ini, kautahu aku butuh sesuatu untuk dibaca setelah menyelesaikan tugas-tugas liburan musim dingin.”

“Ya, dan kalau kau mungkin lebih pelupa daripada aku, malam ini adalah malam Misa dan kita berdua harus sudah berada di rumah sekarang.

Aku melirik arloji di pergelangan tanganku, lantas mendesak sisa pernapasan keluar dengan kasarnya. Tera berdiri dengan kedua kakinya, mulai meluruskan persendian tangannya sementara aku memilah karton berisi buku mana yang harus dibawanya. Detik berikutnya, Tera sudah lebih dahulu membawa kantung yang lebih berat dan kami berjalan berdampingan di pedestrian track. Geming menelusup begitu saja kapan pun aku dan Tera dibiarkan berdua, tanpa konversasi dan konfrontasi.

Udara di bulan Desember begitu dingin semakin kami mengikis jarak menuju rumah. Tera membiarkan uap putih menguar dari mulutnya tiap beberapa detik sekali dan salah satu tangannya harus sibuk mencuri gerak demi menahan angin meniup kembali surainya sampai menutupi pandang. Aku berhenti menambah pijak, lalu membenahi rambutnya demi meminimalisir curi-gerak Tera yang tidak efisien. Detik itu, untuk pertama kalinya dalam enam belas tahun kehidupan kami, aku melihat manik seorang Tera Ed lekat-lekat, sebagaimana ia memandangi aku untuk yang pertama kalinya.

Tera Ed’s seriously something else.

.

.

.

Empat puluh tujuh bulan setelahnya tidak lebih baik. Pendapatku tiga tahunan lalu jelas salah, aku pasti sudah gila karena menggolongkan Tera sebagai sesuatu yang lain dalam artian positif. Nyatanya, Tera selalu pulang malam dan aku –seorang Byun Baekhyun; yang dengan segala kesialan dan cobaan dalam hidupnya– harus rela menunggunya sampai. She was really something else in the past, and she is. Perbedaannya, aku tak lagi memasukkan sesuatu yang lain itu dalam bingkai positif. Tera selalu pulang malam, dengan pemuda berbeda setiap harinya, dan bebauan alkohol atau senyum manis seperti orang gila. Seharusnya, aku menolak saja berada satu flat dengannya. Semestinya, dulu aku tak perlu masuk ke universitas yang sama dengan Tera Ed.

“Hei, Baek.” sapanya, tanpa benar-benar menyapa.

Aku meneliti detailnya dari atas hingga kaki begitu menyadari eksistensinya, lantas bersedekap. “Dengan siapa hari ini? Jack? Richard? Atau siapa anak hitam yang kemarin membawa anjing kecil ke kampus– Key, atau siapalah.”

Its Kai, Bacon. Seriously.”

Ah, ya, itu. Pemuda yang berada di tingkat teratas pencarian wanita di universitas. Yang menari di klub setiap jumat malam –menurut penjelasan Tera. Aku tidak peduli. “Kautahu bukan itu yang kumaksudkan, Tera Ed. Jadi, pria sial mana malam ini?”

Tera memandangku dengan tatap lelah, yang sayangnya sama sekali tidak kumengerti maknanya. Obsidian itu menatap irisku hingga aku memutuskan kontak mata dengan merunduk dan melepaskan sepatu ketsnya. Tera menghela napas, bergumam kata seperti ‘thanks’ lantas segera masuk ke kamarnya, menutup pintu dengan bunyi buk! yang keras.

Sudah kubilang, Tera Ed kini menjelma menjadi sesuatu yang lebih lain daripada yang lain. Ini tahun ke empat perkuliahan, dan Tera merubah dirinya semenjak semester lima perkuliahan. Ia tidak lagi mengikat asal surainya, melainkan menata mereka dengan lebih apik. Lalu ia memakai pemoles bibir, membeli sepatu-sepatu dan pakaian-pakaian pesta yang kurasa digunakan untuk pergi ke pub kecil di dekat kampus. Tera Ed berubah, menjadi sesuatu yang selama ini kugolongkan sebagai orang-orang jahat, orang-orang yang tidak sebaik orang yang baik. Manikku beralih pada jam besar di tengah ruang, lalu mengunci pintu dengan batin berkecamuk.

Aku melangkah menjauhi pintu, tetapi menyandung sesuatu. Dan ketika kulihat apa itu; adalah kardus seukuran kotak sepatu, dengan bungkus bewarna putih bercorak salju. Aku melirik kalender, ini hari ulang tahunku. Lalu detik itu pula aku memetik sesuatu, Tera pulang pukul tujuh malam, membawakan kado yang seharusnya kusadari semenjak tadi. Dan aku, menuduhnya yang tidak-tidak.

.

.

.

Keesokan harinya aku tak sempat mengucap apa pun, dan hari berikutnya, juga selanjutnya. Tera selalu berangkat pagi-pagi sekali, biasanya dengan selembar note di depan pintu lemari pendingin. Malamnya ia akan pulang lebih larut dari biasanya. Namun, malam ini ia tidak pulang. Itu yang membuatku khawatir semenjak berbelas menit lalu. Ini bahkan sudah pukul sembilan, dua jam setelah kepulanganku, dan Tera Ed tak kunjung datang di muka pintu.

Damn it, Tera!” Aku berteriak melalui sambungan telepon. Suara Tera sumbang, nyaris parau dan tidak terdengar. “Kau belum pulang, aku menungguimu semenjak tadi, berkata pasti kau melupakan jalan ke rumah dan untuk pertama kalinya aku mengharapkan lelaki yang berada di sampingmu malam ini mau berbaik hati mengantarkanmu. Dan kau–mabuk?”

“Aku tidak mabuk, Baekhyun. Tenanglah sedikit,”katanya, sama sekali tidak membantu.

“Kenapa kau belum pulang? Ini sudah mendekati larut, dear Tera Ed! Yang benar saja!”

“Terlalu malam untuk menyadari aku berada di kamarku sedari tadi, Byun Baekhyun? Lima belas menit sebelum kau pulang ke rumah dengan tendangan di pintu utama, aku bahkan sudah selesai membersihkan diri. Aku harus menyelesaikan esaiku dan kini kau meneleponku sambil berteriak seperti orang kesetanan. Its been 4 years, Baekhyun. Dan tiada di satu hari dari lipatan tiga ratus enam puluh lima hari itu kau meneleponku sebegini heboh. Empat tahun untuk dapat mendengarkanku bicara panjang lebar, empat tahun untuk mampu membicarakan sesuatu yang bahkan tak bisa aku sampaikan secara langsung, dan untuk pertama kalinya di empat tahun ini, kau– mengkhawatirkanku?”

Bukan terperenyak yang patut aku lakukan, tapi mungkin ceratuk di sambungan membuat Tera berceracau pelan, lantas membuka pintu kamarnya. Sepasang kantung mata terlihat jelas, sembab di wajah tidak mengusir fakta bahwa Tera Ed baru saja menangis. Oh, dear.

.

.

.

Tidak semua orang yang kau cap jahat itu benar-benar jahat. Ibu bilang hanya ada dua kepribadian di dunia ini; jahat dan baik. Hampir seluruh manusia ingin menjadi si baik. Mereka tampil serba bersih, berbudi luhur dan biasanya akrab. Sejatinya ada banyak yang dapat membawa seseorang dijuluki baik atau jahat. Itu pun tergantung dari skala mana kau mengukurnya.

Semenjak kecil, Tera Ed tak ubahnya sebuah kontra daripada diriku. Dia membuatku tahu apa itu jahat dan baik, mampu meneliti sesuatu hingga ke dalam dan menyimpulkannya dengan tenang. Tera memperlihatkanku bahwa tak selamanya hitam itu gelap, dan tak selamanya putih itu terang. Ia berperilaku jahat, namun, jauh di dalam sana, Tera Ed benar-benar yang terbaik.

She was seriously something else, she is, and she’s always been.

Fin.

5 thoughts on “December, That Night

  1. manis banget ini ceritanya… jadi sebenernya yang suka duluan itu Tera kan, tapi Baekhyun baru mulai sadar waktu mereka udah remaja. kasian Tera kayaknya putus asa banget karena Baekhyun gak nyadar juga sama perasaannya. sampe tinggal serumah pun Baekhyun masih gak sensitif. emang harus digituin sih, dibuat sadar dulu sampe bener2 ngerasa kehilangan baru deh mau bergerak hahay.
    nice story ^^

    • Hey, kak!
      Hm, bisa dibilang gitu. Soalnya Tera ini tipikal yang gamblang tapi lama kelamaan nutup diri sih. Sampe pada poin aku aja bingung dia mulai naksir kapan HAHAHA

      Iya:( Baekhyunnya kewolesan banget jadinya begini kan meledak-ledak teranya. Emang cabe merah susah banget notis orang padahal dia di sini suka memindai kepribadian orang heu;;;:

      Tul! Emang sekali-kali mesti digampar kenyataan baru sadar. Hehe thanks kak!

  2. KEREEEENN!!!!! Dhila ini kereeen banget aku suka cara kamu nulis ini. Padet, ringkas, ga bertele-tele, ngena, feelnya aduh dapet bangeeet. Aku hobi banget baca friendzone-an kayak gini, dan kenapa aku sih baru baca ini aku kesel!!! Aku suka banget karakter Tera yang gamblang. Terus aku juga suka karakter Baek di sini, kayak yang sebenernya tuh dia dan Tera ga jauh beda. Yang ngebedain cuma gimana cara mereka nunjukin perhatian doang. Tera yang gamblang bisa jadi cuma diem-diem doang sedangkan Baek yang kalem bisa jadi sampe ngamuk-ngamukan. SUKAAAAKK.

    Aduh kurang panjang Dhil aku seneng banget baca fic ini sampe kesel sendiri pas tadi liat tulisan fin. Kamu wajib nulis Tera x Baek lagi nih hahahahak fix ngeship mereka abis. Sukses dhil!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s