Post-Problem

post-problemPost-Problem

Main Cast : 17’s Hansol Vernon, [OC] Giella Vernon | Support Cast : 17’s Seung Gwan

| Genre : Daily Life, Comedy!Slight, Drama, Family | Rating : Teen |

Duration : Ficlet [863 words]

.

 

Hansol menoleh ketika Giella menutup mata, Giella menengok ketika Hansol berbalik wajah, lantas, Seung Gwan diperhatikan oleh siapa?

.

.

.

“Hey, yakin baik-baik saja?”

Hansol bertanya kelewat santai, sementara Gie di depannya semakin merengut. Pemuda itu tak akan pernah mengerti bagaimana rasanya menjadi gadis enam belas tahun dengan hormon tak karuan, sedikit-sedikit marah, lalu detik berikutnya menangis.

“Memangnya bisa apa kalau aku tidak baik-baik saja!?”

Berpasang mata yang menangkap kejadian itu tidak lagi menahan tawa. Giella memang begitu, tidak ragu untuk mengutarakan perasaannya, meski di depan keramaian kafetaria sekolah. Setelah itu ia menggigit bibirnya, kesal dengan Hansol yang tercengang. Gadis itu menapakkan kaki keras-keras, mengunyah rotinya sambil menjauh. Hansol memang tidak pernah mengerti!

.

.

.

“Dia seharusnya tahu aku tidak bermaksud seperti itu,” Gie berkata di ujung sambungan, tangan kiri sibuk memegang handle bus. Seunggwan di sisi lain telepon itu terkekeh pelan. Kalau sepasang kembar sudah bertengkar, maka sepupu pun turun andil dalam pemecahan masalahnya.

“Begini, ya, aku sama sekali tidak keberatan diperhatikan begitu, tapi harusnya ia tahu kenapa aku tidak berkawan lagi di sekolah-“

Tapi kamu belum coba membicarakan hal itu’ kan?”

Gie memindahkan ponselnya ke telinga kiri, menyahut, “Belum, sih. Lihat saja dia, terlalu sibuk dengan urusan tebar pesona. Mana punya waktu untukku?”

Semua orang bakal menghela napas banyak-banyak bila ada di posisi Seung Gwan saat ini. Pemuda satu itu toh tidak bisa berbuat banyak selain menjawab dengan nada super tenang. Sedikit demi sedikit menstimulasi suasana hati Giella yang belakangan tak pernah baik. Dia dari belasan orang terdekat keluarga Vernon sudah tahu, kalau yang saat ini terjadi di antara Gie dan Hansol merupakan masalah kecil. Sedikit ia mengutuk tingkah Hansol yang tidak pernah memperbaiki suasana.

Dengar, Gie. Ini sudah hampir dua minggu dan kamu masih belum berbicara langsung padanya mengenai hal ini. Kalian tak pernah selesai bila aku tak ikut campur, jadi jangan cerewet dan tunggu aku sampai di rumahmu.”

Begitu, lalu sambungan terputus.

.

.

.

Ya, Seung Gwan benar. Ini memang nyaris dua minggu dan Gie tak berhenti bertingkah manja. Gadis itu berdiri di depan pagar rumahnya, pandangan jauh menubruk obsidian pasangan kembarnya di langkan atas. Hansol melempar kunci dari sana, yang langsung ditangkap Gie dengan cekatan. Si gadis melontar tatap jengkel, sementara yang diberi kilatan amarah justru menatap balik, dengan isengnya menaikkan sebelah alis, memanaskan kembali seorang Giella Vernon. Tapi perang dingin di dalam rumah itu tak pernah sempat dimulai lantaran Seung Gwan dengan sepedanya sudah lebih dulu masuk ke pekarangan. Pemuda itu tersenyum lebar, barangkali berniat mencairkan suasana, tetapi toh baik Hansol maupun Giella masih sebeku es, duduk berhadap-hadapan di meja makan.

“Saudara-saudaraku!”

Keduanya menatap Seung Gwan dengan ujung mata, lalu kembali memerangi obsidian masing-masing. Seung Gwan memang begitu, selalu datang dengan senyum lebar dan suara cempreng yang terlalu bahagia. Hansol kadang meragukan jiwa manly sepupunya itu. Terlebih jika ia sudah dengan bangganya menyebut diri sendiri ‘Sepupu Gwan’ atau yang lebih menjengkelkan ‘Gwannie’. Sayang, tidak satu pun dari kedua nama dan kepribadian itu muncul hari ini. Seung Gwan menarik satu kursi di tengah meja makan. Mungkin untuk menekankan kalau ia tak memihak siapa-siapa. Lalu pemuda bersurai cokelat kemerahan itu berdeham, menarik nafas, dan-

“Tunggu,” potong Hansol. Gie memandanginya, bertanya-tanya ada apa sebelum Hansol melanjutkan, “Dengar, aku mengaku salah kalau ini masih tentang sepeda motor hari itu. Seharusnya aku tidak menunggu Gie hingga larut meski dia sudah menyuruhku pulang. Aku tahu ada beberapa siswi yang menjengkelkan, tapi mana bisa aku menelantarkan gadis ini,” Ujung jari telunjuknya menunjuk Gie, lalu detik berikutnya ia menurunkan jari itu pelan-pelan. “Pulang larut bersama senior Seokmin yang cerewet itu. Memangnya aku tidak tahu lelaki itu berniat apa.”

Hening. Gie menuang air ke gelas terdekat, lantas meminumnya payah-payah. Baru Seung Gwan ingin membuka mulut, gadis itu sudah lebih dulu berujar, “Aku tahu maksudmu baik, tapi kau seharusnya tahu kalau penggemar-penggemarmu itu luar biasa idiot-“

“Jangan memaki, Gie,”

“-dan gemar menyimpulkan sesuatu seenaknya! Mereka mengacak lokerku, mengerjaiku di ruang ganti, menyebar isu bodoh tentang aku yang mengekangmu dari hubungan dan dengan santainya menyetujui ajakan jalan senior Seokmin. Demi Tuhan! Memangnya mereka tidak tahu senior Seokmin itu mendekati nyaris seluruh populasi perempuan di sekolah kita!?”

Nafasnya tidak beraturan ketika dia selesai bicara. Mulut Hansol menganga, sedangkan Seung Gwan sibuk memakan nutella di atas meja. Niatnya menjadi mediator justru disia-siakan, pikirnya. Saudara kembar itu menatap satu sama lain, masing-masing membawa aura gelap yang tebal.

And the problem is, you’ve stopped driving me to school eversince! Memangnya kamu tidak tahu kalau jalanan itu bukan tempat favoritku? Menyebalkan, Hansol! Dan kau masih berani menanyakan apakah aku baik-baik saja tadi pagi! God.”

Gie menutup wajahnya dengan telapak tangan, membiarkan teriakan frustrasinya tertahan di sana. Lalu lekas-lekas berdiri, hendak menyudahi perbincangan mereka sampai suara pasangan kembarnya memecah suasana. “Maaf.”

“Huh?”

“Maaf, oke? Aku tahu Giella Vernon benci berada di tengah-tengah orang asing, apalagi kalau sedang ada masalah. Aku tahu. Aku bakal berangkat bersamamu lagi mulai besok, dan kau, Seung Gwan, berhenti makan nutella kami! Demi Tuhan, kenapa, sih, kau selalu menghabiskan persediaan makanan kami?”

.

.

Hening itu tidak berlangsung lama ketika Seung Gwan menutup kaleng nutella, lalu bertanya dengan sebelah alis terangkat, “So, problem solved?

Hansol buru-buru undur diri, menyusul Gie ke ruang keluarga. Seung Gwan menghela napas keras-keras.

“Ya, ya, solved sekali! Aku ini sepupu kalian, tahu! Jauh-jauh datang ke sini hanya untuk ditinggal sendiri.”

 

Well, yeah, agaknya masalah baru kembali muncul di pihak Seung Gwan.

Fin.

 

A/N:

Fic di atas merupakan fic yang dibuat dengan sangat asal dan berbasis pada stres yang belakangan aku hadapi HAHAAHA. Banyak plothole, kind of plotless, tapi semoga bisa menghibur kalian yang membaca.

So, mind to review?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s