Innocence #03

tumblr_nvyp0oeJpm1r8vpj5o5_500.png

“Kau tidak tahu, ya?”

“Apa?

“Yerim kan bercita-cita jadi artis!”

.

Sedari tadi pikirannya diselubungi banyak sekali pertanyaan. Chan berjalan mondar-mandir, menengahi ramai ruangan taman bermain. Barangkali dia memang suka bertingkah aneh, namun agaknya tingkahnya kali ini lebih menuai atensi berlebih.

“Duduk bisa, kan?”

Yerim bersungut dari seberang ruangan. Gadis itu membenahi krayon pemberian Sooyoung—kakak sepupunya yang lulus duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar­—dengan hati-hati. Seandainya dia dapat mengatur besar suaranya, mungkin bocah lelaki yang dia kesalkan tak akan menghampirinya.

“Apa?”

Chan menggeleng-gelengkan kepala, tetapi gelengannya itu tidak tampak seperti jawaban atas pertanyaan Yerim. Jadi gadis itu berjengit, sedikit kesal, sedikit meyakinkan diri kalau dia sudah terbiasa.

Yerim menaruh tempat krayonnya dalam tas, memeriksa barang lainnya sebentar, sebelum bersenandung ringan. Hari ini agaknya cukup melelahkan, penat di benak Yerim pun belum sepenuhnya terangkat. Hanya satu-dua hal yang dapat menghilangkannya, Yerim tahu itu. Detik berikutnya ia berdiri, lantas berjingkat-jingkat meniru gerakan ballet. Senandungnya tidak terputus. Yerim membentuk gerakan memutar, pelan, sembari terkikik kecil. Tapi barangkali tatapan Chan membuatnya kembali ke dunia, menghentikan keseruannya.

“Ada apa, sih? Mengganggu, tahu!” sungutnya.

Chan masih menopang pipi dengan lengan yang ditekuk, masih memperhatikan setiap gerak-gerik Yerim, masih tidak sepenuhnya sadar ketika ia berkata, “Jadi benar, ya?”

Yerim menahan tanya ‘apa’ yang sempat ingin keluar, menunggu sampai Chan melanjutkan, “Kamu bercita-cita jadi artis?”

“Eh?”

“Iya, kamu. Belakangan ramai sekali dibicarakan. Chaeyoung juga bilang begitu.”

Yerim tidak tahu kalau coret-coretan yang ia buat ketika melamun diperhatikan sebegitunya. Chaeyoung —sepupu Chan yang selalu berbicara cepat dan bersuara merdu—juga tidak terlalu dekat dengannya sebelum ini, pantas saja gadis bersurai sebahu itu tahu-tahu mendekatinya seminggu belakangan.

Yerim bersedekap, memandang Chan dari ujung kaki sampai puncak kepala.

“Memangnya kenapa? Salah jika aku ingin jadi artis? Kamu tampaknya bermasalah dengan itu,” katanya, menyeringai kecil.

“Siapa yang bermasalah?” tanya Chan. Anak laki-laki itu memutar pikiran, mencari-cari alasan yang bisa membungkam Yerim. Gadis itu kan suka mempermalukannya di depan umum. Tujuh detik kemudian, ganti Chan yang menyeringai, “Aku sih tidak. Aku kan juga ingin jadi artis. Nanti kita saling menandatangani album masing-masing, ya!”

.

.

.

Alis Yerim berjengit, jantung Chan berdentam.

Chaeyoung di sudut ruangan menyeringai, berseru, “Bohong sekali! Dia hanya ingin bersamamu, Yerim!”

Oops!

Fin.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s