[02] Not Wise Enough

tumblr_nrhi21sOZK1tbymbno1_540

Roxanne Merope Blond – Jeon Weonwoo // T // Slice of Life, Romance, Comedy!Slight // Ficlet

.

Siapa yang beruntung?

Well, itu relatif.

.

“Hei, Rox, melamun lagi?’

Gadis di depan jendela masih bermangu ketika Weonwoo menghampirinya, pandangan menembus kaca yang beruap. Lelaki itu tidak pernah tahu apa yang sebenarnya sedang dipikirkan si gadis. Barangkali memperhatikan bagaimana hujan jatuh begitu deras di luar sana, atau fakta bahwa kap mobil —yang Roxanne pinjam dari kakaknya, Seungcheol—tak sempat mereka tutup lantaran harus menjauhi rintik air yang turun tiba-tiba. Di situ mereka terperangkap hening ruangan, ditemani roaster biji kopi yang berbunyi tanpa henti, menengahi perhatian keduanya dari apa pun itu. Omong-omong, Weonwoo memilih pilihan yang kedua. Siapa pula yang mau percaya kalau Roxanne mau repot-repot memikirkan melankoli hujan. Bukan Roxanne sekali.

Baru ketika Weonwoo menggeser kopinya —secangkir espresso panas—Roxanne menoleh, perhatiannya sekonyong-konyong berpusat pada si pemuda, buru-buru gadis itu memukul bahunya. Weonwoo berharap pukulan itu pelan, tapi itu jangan diharapkan dari seorang Rox-Roxy-Roxanne.

“Ouch!”

“Jangan manja, Jelek. Kau mengganggu pemikiranku!” keluh si gadis, menyeruput espressonya sembari mengernyit. “Astaga, berapa lama aku off? Kopinya sudah tidak panas lagi!”

Jerit-jeritan seperti itu juga sudah biasa. Tetapi bahkan lelaki terdekat seorang Roxanne Merope Blond tahu kalau gadis itu tengah datang bulan, karena dia bukan gadis manja, bukan pula pengeluh yang kelewat nyaring. Weonwoo melihatnya dengan ujung mata, rasanya mau pulang saja ketimbang terjebak hujan begini. Surai brunette Roxanne memenuhi pandangannya, lalu tangan Weonwoo tahu-tahu merambat mengusapnya. Sulit memang untuk tidak mencoba menyentuh brunette itu. Detik berikutnya Roxanne kembali memukul si pemuda, keras.

“Brunette bukan untuk dipegang-pegang, bodoh sekali, sih.” sungutnya. Weonwoo menghela napas, nyaris lelah ketika tahu-tahu sebersit pemikiran bijak menubruknya.

“Pernah berpikir kalau kau beruntung?”

Roxanne menoleh sedikit, pertanda kalau dia mulai tertarik dengan awal percakapan itu. Sebelah alis berjengit, gadis itu menaruh cangkir kopinya di atas meja kayu. “Maksudmu?”

Well, beruntung, punya kekasih sepertiku, misalnya—“

pfft!

“—jangan memotongku dulu. Lagipula aku bercanda. Kalau punya kekasih sepertiku sih bukan untuk dipuja begitu, cukup bersujud saja setiap hari.” lanjutnya, dibalas pukulan di kepala.

Roxanne kembali melihat ke luar jendela, pandangan menerawang. Sebentar kemudian ia mengendikkan bahu, masih menatap lurus ke depan sambil berkata, “Tidak sepenuhnya. Tapi kurasa setiap orang pasti beruntung, kan? Seperti aku ketika Ibuku yang penyayang dan pengertian memberiku latihan ballet sampai lulus sekolah dasar. Siapa sih yang suka ballet? Kenapa ibu tidak masukkan Seokmin saja! Dia yang termuda.”

Duh.

Berbincang serius dengan seorang Roxanne memang sebuah kesalahan besar. Menjadi kekasihnya separuh dari itu.

“Kamu tahu bukan itu maksudku. I mean, coba pikir betapa beruntungnya kita masih bisa duduk di sini, minum secangkir kopi, sementara orang di luar itu,” Weon woo menunjuk seorang gadis—bersurai cokelat tua, mengenakan dungarees, kaki tak beralas—berdiri diam diguyur hujan di luar sana. “Dia bahkan tidak sempat mencari tempat berteduh, terpaksa berbasah diri begitu.”

Dengan itu, Roxanne kembali menertawakan pemuda Jeon. Gadis itu memegang kedua sisi kepala kekasihnya, mengarahkan pandangan si lelaki pada gadis tadi—sejenak Weon woo pikir Roxanne ingin menciumnya atau apa. “Lihat dan tafsirkan. Ayo, jangan mempermalukanku.” katanya.

Weon woo menurut saja, memperhatikan gadis di luar sana, yang berdiam diri meski sepenuhnya basah kuyup. Tidak ada yang beda. Roxanne memang punya pikiran berbeda darinya.

“Dia di sana, mengenakan celana kodok seperti itu, tidak memakai sepatu, dan dia sama sekali tidak keberatan. Coba perhatikan, dia bermain dengan tanah basah di kakinya! Dia seorang pecinta alam, dan kamu? Seorang yang sok tahu dan apa lagi?”

Weon woo diam selanjutnya. Begitu terus sampai mereka berada di dalam mobil, joknya basah, ada decit aneh kala Weon woo mendudukinya. Roxanne tertawa-tawa melihat si pemuda, kemudian ia menyalakan mesin mobil. Dua menit. Tidak ada pergerakan. Mereka di sana sampai air di jok meresap ke celana masing-masing. Rox keluar, mungkin mencoba memperbaiki mesin. Tapi Weon woo masih diam. Ia memperhatikan gadis yang tadi dikomentarinya, yang kini memiliki sinar tersendiri di maniknya, puncak kepala tengah diusap oleh seorang pemuda yang juga kebasahan. Barangkali mereka sudah mengatur janji, atau mungkin memang keduanya pasangan bodoh, Weon Woo tidak tahu. Yang diketahuinya, Roxanne menghampiri pintu di sisinya, wajah dilengkapi senyuman asimetris.

“Masih berpikir dia tidak beruntung?” Belum sempat ia berpendapat, Roxanne sudah lebih dulu menduduki tempatnya kembali, menyalakan mesin, kemudian menoleh pada Weonwoo, berkata sambil diselingi tawa. “Dorong sana, kita jadi tahu siapa orang yang tidak beruntung hari ini, kan?”

 

 

Fin.

A/N:

well, say hello to our new oc, Roxanne! Kenapa di atas ada [02] well karena Rocsan adalah karakter perempuan kedua setelah Giella yang mau bener-bener aku debutin. Mereka yang nanti didebutin ini adalah pecahan dari karakter aku yang aku jadiin gadis-gadis di antara member svt. Do leave some review, please! thankyou

 

2 thoughts on “[02] Not Wise Enough

  1. Annyeong. Wah suka banget sama ceritanya,nama tokoh wanitanya mirip brand tas ya hihihi. Kedepannya harus lebih bagus dari ini hehehe, jujur aku kurang ngerti pembicaraan mereka tapi aku suka gaya bahasa kamu! Tetap semangat! Good luck!!

    • hai! terima kasih sudah berkunjung dan membaca yaaa! Tulisanku belakangan emang kehilangan fokus dan esensinya huhuhu maafkan percakapan yang kurang terbuka!😀 Pasti! Makasiiiiiih! Good luck to you too!

      p.s : dan thanks udah suka dengangaya bahasaku! aku gayakin kita udah kenalan atau belum tapi salam kenal, aku Dhila, 98l! May you have a great day!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s