#04 Not An Angel

#04. Not an Angel

Main Cast : Giella Jeanne Vernon & Jeon Weonwoo | Support by: Boo Seungkwan

School life, Fluff, Daily Life // T // Ficlet

.

Oh baby, yesterday and the day before that

I’m not an angel anymore

..

 

Sebagai anak kembar, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan menjengkelkan yang menghampiri Gie.

“Siapa yang lebih tua?”

“Apa kalian punya barang-barang yang sama?”

“Kalian ini kembar identik, ya?”

Menyebalkan sekali. Belum apa-apa, Giella sudah menekuk wajah, padahal ini hari pertama tahun ajaran baru. Gadis itu sibuk merapikan buku-bukunya, ingin buru-buru pergi kalau ada kesempatan. Toh sesudah ini dia bakal mengaplikasikan formulir ekstrakulikuler, jadi buat apa berlama-lama dengan orang yang hanya ingin tahu. Too nosy for their own good.

Begitu bel berbunyi, Gie ingin sekali langsung berlari, mau cepat-cepat bebas dari pandangan bertanya teman-teman barunya. Tetapi baru dia berdiri, pintu kelas sudah menjeblak terbuka, menunjukkan sepupunya —namanya Seungkwan, dan dia satu tingkat dengannya­—dengan tampang ngos-ngosan. Ah, Giella harusnya tahu kalau kakak tirinya menjemput lagi. Semua orang di rumah —kecuali orang tua mereka—agaknya tahu kalau Giella dan Mingyu memiliki sesuatu yang sulit dipersatukan, kekangan masa lalu dan crush besar Gie sepanjang masa kanak-kanaknya. Gadis itu menarik pegangan tasnya, menepuk bahu Seungkwan kala ia melewatinya. “Pulang saja duluan, aku mau mengumpulkan formulir.”

Dengan itu, Seungkwan melihat Giella membelok di ujung lorong, nampak sama sekali kaku—sama sekali tidak suka Seungkwan menjemputnya untuk pulang bersama Mingyu.

.

.

.

“Permisi,”

Hening koridor mempertunjukkan kepadanya kalau ia pendaftar pertama, atau paling tidak satu-satunya calon anggota yang berkunjung sepulang sekolah. Ruangan di depannya masih sunyi, tetapi Gie tahu kalau masih ada orang di dalamnya. Lampu masih dinyalakan, sayup-sayup terdengar suara musik. Tak lama, Giella mendengar suara berat berkata, “Masuk.”

Gadis itu menahan tiga detiknya untuk menjaga sopan santun, lalu menggeser daun pintu itu. Ruangan itu cukup besar untuk ruangan ekskul, tetapi juga sedikit sempit kalau anggotanya lebih dari lima belas orang. Di depannya, duduk di bangku yang tak punya pasangan, adalah lelaki bersurai legam, masih menunduk, tangan menulis entah apa.

“Aku ingin mengumpulkan formulir pendaftaran.”

“Nanti saja, ekskulnya baru berkegiatan dua hari lagi.”

Giella menatap orang itu setengah jengkel. Pantas saja rambutnya acak-acakan, mungkin otaknya sama berantakannya. Ia menahan diri untuk tidak mendengus, tetapi tidak bisa menahan kekesalannya. Dari semua macam manusia, Giella paling benci dengan orang yang sok seperti ini.

“Aku kebetulan ada urusan lain pada hari itu, jadi aku mengumpulkan hari ini.” katanya, berdusta. Lelaki yang duduk itu mengangkat wajahnya —untuk pertama kali semenjak kedatangan Giella­—lantas menaruh penanya dengan muram.

“Kalau begitu tidak usah daftar saja, bagaimana?”

Oh, Giella tidak suka. Dia tidak akan pernah suka pada senyum asimetris di wajah lelaki itu. Tapi baru gadis itu ingin berargumen balik, si lelaki sudah lebih dulu tertawa. Kedua kelopak matanya menutup, membentuk lengkungan yang kelewat tolol untuk orang yang baru saja bersikap sebegitu congkak.

“Bercanda, bercanda, kau boleh menyerahkan formulirmu sekarang,” katanya kemudian.

Giella melirik arlojinya, sepuluh menit terbuang untuk membenci presensi lelaki itu. Oh, Tuhan.

“Saudara kembarmu mendaftarkan diri ke ekskul sahabatku,” Orang itu berkata. Giella sudah memasang wajah paling penat yang pernah ia punya, sudah menduga kalau lelaki ini bakal membahas perihal Hansol dengannya. Baru ia ingin menyela, si pemuda sudah lebih dulu melanjutkan, “Kupikir kau keren, memilih apa yang kau sukai ketimbang memuaskan perkiraan umum.”

Well, Giella tidak menyangka itu. Ia berdiri di sana, kali ini dalam atmosfer canggung, sebelum tersenyum tipis.

“Ya, kami memang tidak seharusnya menempel terus, kan?”

Dua menit selanjutnya lelaki itu disibukkan dengan kegiatan membaca formulir Giella, meliriknya setiap menghabiskan satu kotak pertanyaan di kertas itu;seperti sedang memberitahunya kalau ada sesuatu yang menarik di kertas formulir Giella. Si gadis melirik arlojinya lagi, kali ini yakin kalau kakak tirinya pasti sudah pulang lebih dulu.

“Kalau begitu, aku pamit dulu—“

“Weonwoo.”

“—maaf?”

“Jeon Weonwoo, namaku. Tingkat tiga.”

“Err—oke. Sampai nanti, Senior.”

Giella berbalik, nyaris hilang di balik pintu ketika pemuda itu—Weonwoo—berseru,

“Loh, kukira sayapmu bakal muncul begitu kau berbalik!”

Guess you’re wrong then, pikir Giella, menahan kikik bercampur jengkel. After all, dia bukan tipe gadis pelahap pujian. Satu yang pasti, Gie bakal memperkirakan datang lusa nanti, siapa tahu orang aneh ini punya kepribadian menarik lain yang belum dikeluarkan.

 

Tomorrow and the day after that, I want to catch you

Deep in my heart, a naughty wind blows

 

Fin.

2 thoughts on “#04 Not An Angel

  1. KADHILAAAA CIEEEEE ah lucu ah kembarannya hansol pasangannya wonu asik asikxD aku suka, wonwoo jadi gombal gini receh banget sial. intinya aku suka banget!!!! cuma yang mau aku kasitau namanya ditulisnya wonwoo aja kadhil gwencana. in case kakak gatau, hangeul konsonan-eo-o emang diromanizationnya ‘wo’ kok kak ((tapi maaf kalau ternyata kadhil tau)) ((oke lais sotoy))

    POKOKNYA SUKA! MENGHIBUR BANGET DI TENGAH LEMBARAN EKONOMI! ini bakal ada kelanjutannya kah kak? itu #04 berarti ada previousnya ya ((kudet)) ((gatau apa apa)). pokoknya fighting kadhil!<3

    xx

    • WOY LAIIIIIS
      Alhamdulillah ada yang baca ini :’) haha. Anyway, pleasure to have u here!

      ASYIK DIBILANG GT. HAHAHAHA etapi wonu bukan pasangan Gie, Lais. Dia cuma senior dan dia udah punya pasangan, namanya Roxanne. Pasangan Gie masih dirahasiakan, beserta kakak tirinya dan kisah merekaHAHAHAHA.

      Emang receh abis cuma cape juga ini hati nulis kakak kelas macem gitu cobadeh dibayangin ih gemes. Iya yaa strange gituuu. Aku mau nulis wonwoo takute salah apa gimanss. Okedee mulai sekarang bakal wonwoo saja soalnya nulis weonwoo gaenaa.

      YA ALLAH, EKONOMI. Jadi inget senin uas eko:’)
      Errㅡsebenernya 04 di atas itu maksudnya track 04, isinya itu semacam songfic dari lagu di track ke 4 di setiap album. Bebas album dan artistnya, kalo ini aku ambil APink Not an Angel HAHAY mantap. Abis pas aku perhatiin tuh track-track ke 4 di album biasanya kane kane gitu laiiiiiiiis. So yeah

      fighting! semangat ekonomiiiiii
      thanku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s