#04 Stress

tumblr_nvt612SHMU1ufo3dho1_400

[Taeyeon] #04. Stress

Main Cast : Giella Jeanne Vernon, [SEVENTEEN] Hansol Vernon, [SEVENTEEN] Boo Seungkwan | Support Cast: [SEVENTEEN] Jun

Daily Life, Family, Slice of fluff, Comedy // T // Ficlet

.

Ah, your truth can be different

Ah, should I let you hear my honesty?

I’m in stress, baby

.

Sepanjang hidupku, ditemani oleh dua saudara laki-laki sama sekali tidak memberi keuntungan. Yang satu pencemburu, yang satu lagi bertingkah selayaknya dia yang jatuh cinta.

 

“Pagi, Gie,”

Sabtu, pukul enam, dengan graphic tee warna putih dan celana training hitam, tetangga seberang itu menyapanya. Gie mengenakan dungarees, surai cokelat gelap diikat tinggi, sibuk dengan headphone kepunyaannya ketika itu terjadi. Langka, sih, sebab tetangga mereka itu dikenal pendiam, cenderung tertutup.

“Oh, ya, pagi, uh­­–“ Nadanya digantungkan, memancing nama pemuda satunya. Yang ditanya tersenyum, menambahkan, “Jun.”

Lalu Gie melambai padanya, terlalu santai untuk ukuran seorang gadis yang tengah pubertas.

“Pagi, Jun!”

.

.

.

Sapaan itu tidak berhenti di sana, karena setiap Gie berpapasan dengannya, pemuda dua puluh tahunitu pasti menghentikan aktivitasnya, yang kalau kata Seung Kwan—sepupunya yang cerewet— hanya demi menyapa Giella. Gadis itu sih oke-oke saja, tidak masalah untuk menyapa balik. Tapi, hari itu ia harus menahan kebiasaan barunya, lantaran seorang pemuda berwajah serupa sibuk berceloteh.

“Genit,”

“Sapa saja terus,”

“Memangnya tidak ada lagi lelaki yang lebih tua,”

“Kenapa tak naksir kakek Jung saja, jelas latar belakangnya.” —dan begitu terus sampai Giella Vernon sadar kalau pasangan kembarnya merasa tidak suka dengan kegiatan sapa-menyapa itu. Jadi gadis itu berhenti melangkah, lalu menatap Hansol tepat di mata.

“Apa?” Yang lelaki bertanya.

“Bisa tidak pelankan suaramu? Lagipula apa yang salah dengan menegur tetangga—“

“Ah, dengan menegur setiap hari, begitu?”

“­­—seberang rumah? Hansol-a­, serius, kalau kamu menyapa tetangga perempuan, aku gak bakal mengganggu. Tua, muda, bayi, demi Gwannie! Urus saja urusanmu sendiri.”

Hansol menatap Giella sengit, begitu pula sebaliknya. Giella melepas sepatu sekolahnya dengan jengkel, menggantinya dengan sandal rumah, lantas ingin buru-buru masuk ke kamarnya sampai Seungkwan yang tengah mengeringkan rambut muncul di hadapan. Giella tak mau repot-repot bertanya sejak kapan dia di sana, langsung melewati sepupunya itu.

Samar terdengar olehnya pertanyaan Seungkwan kepada Hansol, “Gie kenapa?”

.

.

.

Seminggu ini Seungkwan sering sekali menginap di rumah mereka. Memikirkannya saja membuat Giella penat bukan main. Bukannya tidak suka, hanya saja, ketika Seungkwan menginap, artinya bakal ada banyak ocehan, gerutuan, dan bisik-bisik aneh yang selalu berhenti diucapkan begitu Giella memasuki ruangan.

Kehadiran Seungkwan juga nyaris selalu tidak terduga. Gie terkejut saat tengah bertukar sapa dengan tetangga mereka. Pemuda tembam itu tahu-tahu sudah ada di sebelahnya, bibir bersungut kecil seolah mengomentari entah apa.

“Ada apa, sih? Sejak kapan berdiri di sini?” tanyanya, benar-benar bingung. Seungkwan di sebelahnya masih menggerutu, lantas menatapnya sebal.

“Siapa yang tadi kamu sapa?”

“Tetangga tadi?” tanya Giella balik.

“Iya. Siapa?”

“Oh, namanya Jun, setahuku pindahan dari Guangdong. Kamu tahu kan aku bukan intel atau apalah itu?” katanya, malas. Seungkwan di sebelahnya memutar mata, lalu mengangguk-angguk.

“Kamu sebaiknya jangan dekat-dekat dengannya. Dia terlalu tampan buatmu, tahu. Lebih baik kenalkan aku saja.”

Giella menaikkan pandangan, melihat Seungkwan seolah pemuda itu telah menumbuhkan tanduk di kepala. “Sinting, ya?”

Baru Seungkwan ingin membalas, Gie sudah lebih dahulu mengangkat telapak tangannya ke depan wajah sepupunya itu. Gadis itu menyeringai, “Aku sudah tahu dia tipemu, jadi sebaiknya sekarang kamu berbalik, dan jangan bersemu.”

Gie sudah meninggalkannya ketika Seungkwan tersadar. Begitu ia berbalik, Jun berdiri dengan mata membeliak. Ouch, sebaiknya pemuda itu tidak berpikir macam-macam.

.

.

.

Seungkwan duduk dengan raut berantakan sore itu. Hansol memandangnya dengan tatapan bertanya, tapi sepupu mereka itu hanya mendengus keras.

“Gie membuat Jun berpikir yang tidak-tidak!” adunya. Pemuda yang satu masih mengangkat sebelah alis, kali ini mengarahkan pandangan bertanyanya pada Gie.

“Apa?”

“Apa yang ‘apa’?” Hansol menyahut.

Giella membuang napas keras, bosan melihat kemurungan sepupunya. “Oh, sudahlah. Kamu kan memang ingin berkenalan dengannya, Seungkwan. Kenapa pula harus malu begitu?”

Seungkwan melempar tatapan mencela pada saudari sepupunya. Kadang-kadang Giella memang tidak bisa dibaca. Gadis itu juga biasanya memutar ending yang seharusnya sudah terbaca dari awal. Tidak patut dibenci sih, hanya saja tetap menyebalkan di beberapa kesempatan.

“Dia melarangku dekat-dekat dengan Jun, lalu minta diperkenalkan.” jelas Giella, mengedikkan bahu.

“Dan sekarang orang itu berpikiran aku gay! Demi Tuhan, dia mengajakku bicara serius di luar tadi, hanya untuk mengatakan, ‘Maaf, Seungkwan-ssi, tapi aku bukan penyuka sesama jenis.’—Hansol tertawa mendengarnya, lalu Seungkwan melanjutkan, “Kautahu apa yang aku lakukan, mati-matian menjelaskan sementara pemuda Jun itu cuma menepuk pundakku sebelum pamit!”

Giella mengeluarkan senyum asimetris andalannya, kontan menambah gelak tawa Hansol, sekaligus makin membuat raut sepupunya memberengut. Ha, Siapa suruh ikut campur urusannya. Detik ketika Giella pergi mengambil yogurt di lemari pendingin, gadis itu mendengar Seungkwan mendesis pada pasangan kembarnya, terlalu kencang untuk bisa disebut sebagai bisikan.

“Kalau kamu memaksaku menjauhkan Giella dari lelaki lagi, aku bakal menolak mentah-mentah, Hansol!”

Well, stress di pikiran Giella agaknya kini sukses berpindah ke sepupunya. Mission accomplished.

 

Fin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s