[Orific] Of Granolas, Messed Up Past, and Nicknames

of granolas, messed up past, and nicknames-cool.jpgGideon Arthur, Magnolia Jean, Rowan James

CREEVEY

.

Oh, ketiga Creevey benar-benar akan suka ini.

.

Tiga hari sudah rumah itu terbengkalai; oleh penghuni terhadap barang-barangnya, maupun oleh penghuni terhadap penghuni lainnya. Kediaman keluarga Creevey terlalu kaku akhir-akhir ini. Cerminan harmonis yang biasanya dilihat tetangga sembunyi entah ke mana, digantikan oleh melankoli aneh yang menggantung di udara.

Magnolia menuangkan susu ke mangkuk-mangkuk sarapan, mencampurkan granola, memilih berry mana yang sekiranya cocok ditelan pagi itu. Meja bar itu sepi, ruang keluarga sepi, pun adanya dengan beranda rumah. Alih-alih menghidupkan suasana, agaknya Magnolia lebih senang menyesuaikan suasana tersebut dengan dirinya. Artinya, pukul tujuh pagi dilewatkan sebisu-bisunya presensi.

Denting sendok nyaris tak terdengar, tapi Magnolia suka. Gadis bersurai almond itu menyenangi kondisi yang demikian sampai-sampai ia harus rela menyudahi sarapannya begitu adik laki-lakinya muncul dari kamar di sudut.

“Oh, kau sudah bangun?”

Pertanyaan seperti itu sama halnya dengan sapaan kosong. Rowan menaikkan sebelah alis selama beberapa detik, lalu menyendok sesuap granola ke dalam mulutnya. Baru ia ingin membuka cakap, decitan kursi Magnolia yang menggesek lantai sudah mendahului; gadis itu pergi.

.

.

.

Masalahnya bermula dari sikap pasif kepunyaan Magnolia sendiri. Begini, dia itu tipe gadis yang gemar terperangkap; terperangkap keadaan, terperangkap waktu, atau malah benar-benar terperangkap. Pokoknya, dalam garis hidup Magnolia Jean, sudah diperjelas kalau ia lahir untuk berada di posisi itu.

“Mag, kautahu Christ?”

“Christ?”

Gideon memamerkan sebentuk kurva asimetris di bibirnya, menjawab, “Christian Bortemeouv. Kaunaksir dia?”

Sereal di kerongkongannya agaknya langsung mencakar-cakar, Magnolia nyaris mati karena tersedak. Takut-takut ia menatap Gideon lagi. Laki-laki yang satu ini, selalu mendengar apapun —diulangi, apapun—mengenai Magnolia dari orang lain. Bahkan apabila Magnolia membantah kata-katanya, Gideon bakal terang-terangan mempercayai omongan publik. Fakta bahwa karena saudara kembarnya sendiri ia jadi mendapat perlakuan tidak mengenakkan di sekolah membuat Magnolia mual.

Alih-alih menyangkal, Magnolia diam saja kali ini. Biarlah dia terlanjur tersedak, toh Gideon tidak pernah benar-benar mendengarkannya. Jadi, ketika kepala Magnolia dihantam bola basket di tengah-tengah ruang gim, bukan sesuatu yang mengagetkan kalau pelakunya adalah tak lain tak bukan adalah Christian Bortemeouv sendiri.

“Ada masalah lain, Magnolia Jean?”

Magnolia memungut bola itu, melemparkannya ke dalam boks penyimpan sambil lalu. Ia tidak mengaduh begitu bola kedua mendarat di punggungnya.

“Hanya karena kausuka aku? Really?”

Magnolia memutar bola mata, melayangkan pandangan mencela kepada si cowok sampai Christian tutup mulut. Dia berjalan, mendekati si pelempar, lantas membisikkan sesuatu di telinganya.

“Apa kau begitu senang membodohi diri sendiri?” katanya, suara begitu rendah sampai anak lelaki Bortemeouv itu terbingung-bingung. “Selamat, kau resmi menjadi kantung tinju baru milik Gideon.”

.

.

.

Dari adegan tadi, Magnolia tidak terlihat begitu terperangkap, ya? Well, nyatanya, seberapa banyak ia mengaktifkan mode defensif, sebanyak itu pula nama musuhnya bertambah, dan ia benar-benar terperangkap. Gideon Arthur—kakak kembarnya—memang begitu. Sejak sekolah dasar, Gideon sudah sering terlibat adu jotos dengan orang lain. Magnolia tidak akan kaget kalau orang-orang yang memperlakukannya dengan buruk langsung berlebam wajahnya, atau patah tangannya, atau terpaksa tidak masuk sekolah karena tubuhnya menanggung terlalu banyak gips.

Gideon itu raja manipulasi. Ia tinggal menyebutkan nama di depan Mag, mengonfirmasi apa yang sedang jadi desas-desus —bahkan sesempit-sempitnya sebaran desas-desus itu—dan membuat publik panas. Si X pasti bakal marah, karena anak terkenal mana yang mau digosipkan dengan Magnolia Creevey. Dia toh cuma cewek kelewat pendiam yang suka meletus, dan mempunyai kembaran bagai algojo. Begitu Magnolia jadi ‘korban’, ofisial sudah bantal pukul baru Gideon—si X itu sendiri. Oh, Magnolia memikirkan betapa senangnya Gideon lolos dari hukuman berat setiap menyangkal ‘Cowok ini menghina adikku di depan umum, bagaimana aku bisa diam?’

“Kau mungkin harus melaporkan ini, Mag.”

“Ya, dan beritahu orang tuamu kalau Gideon mungkin butuh psikiatris.”

Adelaide sibuk mengoceh dari seberang meja. Makan siang hari itu ramai seperti biasa, Magnolia tidak sendirian, tentu saja. Sediam-diamnya ia, dia masih punya segelintir teman-teman, dari lapisan mana saja, yang tahu seperti apa Gideon itu. Orang yang tahu Gideon, pastilah tahu Magnolia & Balada hidupnya.

Bersama-sama mereka mengoceh, membuat list untuk Magnolia coba. Well, gadis itu nantinya diwajibkan mencoba satu per satu. Mag mendesak sisa pernapasannya keluar, lalu mengunyah dalam diam. Sudah kubilang, gadis ini suka sekali terperangkap!

.

.

.

Langkah pertama : Kirimkan e-mail kepada orangtuamu, atau walimu, atau orang dewasa mana pun!

Magnolia mengetik dan menghapus, menambah dan membuang draft, log-in dan log-out, begitu terus sampai Gideon pulang ke rumah. Si cowok mengangkat sebelah alis, menunggu Mag menjelaskan apa yang sedang terjadi meskipun sia-sia.

Mag bisa menyimpulkan, kalau langkah pertama ini; gagal.

.

Langkah kedua : Beritahu Gideon seberapa tidak nyamannya dirimu telah terlibat!

Magnolia mau sekali mengetuk pintu kamar Gideon untuk memenuhi list ini. Tapi rasanya seperti menelan granola kering-kering. Gadis itu menunggu di depan pintu kamar kakak kembarnya, mendengarkan bunyi buk-buk-buk yang familiar dari kantung tinju—sungguhan—dari dalam sana.

“Mag?”

Rowan berdiri di ambang pintu kamarnya, kaos grafik warna putih bertuliskan ‘NO HEAT TO HATE’ menyapa obsidian si gadis. Adiknya itu memasang tampang bertanya-tanya, ingin sekali tahu apa yang sedang terjadi. Mag menggeleng, pasifnya ia dalam hal ini adalah pasif penuh kebisuan. Rowan menghela napas, membisikkan, “Kautahu kau bisa bercerita kepadaku, kan?” sambil lalu.

Rowan memang begitu. Seluruh sekolah tahu Magnolia punya adik laki-laki setampan; semanis; sepopuler; seatletis dia. Rowan selalu muncul untuk peduli, sehingga presensinya dipedulikan orang, kemudian kepedulianlah yang membawanya ke tingkat teratas hierarki.

Dua puluh detik kemudian, Mag sudah kembali ke kamarnya, mengesampingkan Rowan James Creevey, dan kembali memusatkan pikiran pada Gideon Arthur. Matanya sibuk membaca langkah ketiga.

.

Langkah ketiga : Serang sajalah siapa pun yang sudah menjahatimu!

Oh, ya, Magnolia Jean memang dikenal galak. Galak pada cowok terkenal yang menanyainya di depan umum perihal desas-desus hubungan, galak pada cewek tukang urus urusan orang lain, galak pada siapapun kecuali keluarganya. Sayangnya, itu dulu.

Jadi hari itu Magnolia terpaksa menyambangi meja makan siang milik Christian Bortemeouv, menggebrak permukaannya, sambil berujar, “Hei, sinting, bagaimana pukulan Gideon kemarin?” Gegerlah seisi kantin.

Cowok berambut arang itu menatapnya dari atas sampai bawah, sayang tidak membuat Magnolia merasakan efek samping. Lantas ia melirik teman-temannya di meja, yang balas memandangnya bertanya-tanya. Oh, Adelaide menjamin mereka semua tidak tahu kalau Christ si Kapten Basket sudah dipukuli Gideon sampai absen dua hari.

Magnolia memamerkan senyum yang sudah diajarkan teman-temannya, “Kunyuk yang satu ini korban terkini saudaraku, kalian tahu?”

.

Tidak ada langkah-langkah lainnya setelah itu. Adelaide Ashley sudah menepuk-nepuk pundak Mag dengan bangga, Giella Jeane sudah repot-repot menghampirinya di koridor hanya untuk mengatakan kalau yang tadi dilakukannya keren, bahkan Mary–mantan pacar Christian—mengedipkan matanya dari parkiran sana.

“Kau akhirnya bicara?” tanya saudaranya, tepat di depan pintu kamar Magnolia.

Gadis itu menatap Gideon tepat di mata, seakan menanyakan maksud si cowok. Gideon bergeming, menunggu.

“Kau keren tadi, Mag. Maafkan aku soal bola basket, dan kau harus tahu, kalau jauh sebelum diangkat menjadi kapten, Christian pernah benar-benar tertarik kepadamu.”

Wow, yang itu jelas baru. Magnolia bersedekap, “Sepuluh orang, Gideon.”

“Apa?” tanya saudaranya, defensif.

“Sepuluh lelaki di sekolah kita yang sudah kau kaitkan dengan aku. Sekarang, kau mengatakan kalau salah satunya pernah tertarik padaku?”

Gideon mengerutkan kening, seakan tidak ada yang salah dari fakta tersebut. Magnolia diam, Gideon memutar bola mata.

“Oh, come on! Masa kau tidak tahu kalau Christian Bortemeouv naksir kau? Arnold Finnigan? Barty Clark?”

Mag menggeleng.

Oh man! Kalau kaukira aku melakukan semua ini hanya untuk mencari orang untuk dipukul, kausalah, Magno. Well, kau benar. Tapi tidak sepenuhnya. Barty Clark wanted to hook you up eversince we’re in the fifth year! Ben Trooper bilang kau boleh dimasukkan ke daftar cewek-cewek koleksinya. Arnold berbohong kalau dia pernah menciummu di gimnasium sekolah, Albert mengibuli anak kelas enam kalau kau pernah bermalam dengannya. Aku tidak mau menyebutkan sisanya.

“Aku juga benci sekali melihatmu diam. Kau seharusnya marah, Magno! Marahi mereka atau balas yang setimpal, bukan hanya membisikkan sesuatu di telinga mereka. Keterdiaman mereka hanya sebentar, tahu!”

Mulut Mag seharusnya menganga, atau mungkin tangannya seharusnya sudah bertemu sapa dengan pipi Gideon untuk tamparan persahabatan, tapi toh dia masih berdiri di sana. Bertahun-tahun bersaudara dengan Gideon Arthur menjelaskan seberapa seriusnya lelaki itu ketika dia menyebut nama ‘Magno’ sambil berapi-api.

“Tapi aku benar soal karung tinjumu.” katanya.

Gideon masih memandanginya tidak percaya, tapi kemudian Mag tertawa, wajahnya merah, dan ia meninju lengan Gideon pelan.

Hey, I’m sorry, okay?”

“Oh, trust me, you really have to, Giddie.”

.

.

.

Rowan dibangunkan oleh ketukan pintu, tirai yang dibuka, dan aroma sereal bercampur susu. Magnolia berdiri di samping tempat tidurnya, surai diikat tinggi, pipi merah dan cengiran gusi siap dipamerkan.

“Selamat pagi, Rowie!”

Oh.

“Um—Mag, apa kau—is everything alright?

Magnolia masih memamerkan senyumnya, mengangguk-angguk terlalu antusias. Rowan meneguk segelas air di nakas samping, menaruhnya, memperhatikan kakak perempuannya lagi.

Are you okay?”

“Uh huh!”

“No spinning?”

“Nothing.”

“Are you even the Magnolia I know?”

“Ofcourse!”

Nah, Rowan tidak tahu apa yang terjadi.  Tapi, kakaknya tidak pernah selovely ini sepanjang masa remaja mereka. Well, dulu iya, waktu Rowan masih sering mengikuti Magnolia ke mana saja. Itu dulu sekali.

Belum sempat dia menuntaskan pikiran, pintu kamarnya kembali menjeblak terbuka. Gideon di ambang pintu, melirik keduanya sambil menyeringai.

Well, aku lapar. Ayo kita sarapan, MagRowie!”

Rowan yakin harinya tidak pernah seaneh dan sebaik ini.

—fin.

 

a/n:

  • Selalu aneh
  • Orific pertama?????
  • Well, seneng banget bisa nulis lagi! Semoga ini menghibur
  • Selamat datang Magnolia, Gideon, dan Rowan!❤
  • Yeah, i know! thats mina! cr from line idk. another cr from tumblr, i did it randomly
  • this fic is 100% unbetaed

p.s : Gideon seharusnya lebih tough dari itu heu apabila kalian punya rekomendasi figur yang suits Gideon bolehlah kasih linknya:)

4 thoughts on “[Orific] Of Granolas, Messed Up Past, and Nicknames

  1. awwwwwww really ini first orificnya dhilaa? ih gak kerasa tau dhil, ngalir banget ceritanya, karakternya, suasananya. ih enak yaaa magnolia punya sekaligus kakak sama adek heuu :” aku pengen banget punya kakak xD duh ratapan anak pertama ahaha.

    suka suka sukaaaaa sampe sejuta kali. ih aku bisa bayangin yang pas gideon ngereveal semuanya ke magnolia pas akhir-akhir tuuuh hahahaha. magnolia pasti yang diem ga bergerak terus yang: hah hah hah apaaa? ini beneran gak nih xD terus sukaaa sama scene terakhir yang si rowan dibangunin terus bingung ini kakak-kakak gue salah makan apa xD

    btw aku masa bayanginnya gideon magnolia sama rowan tuh kaya pemain di criminal minds hahaha. duh maafkeun aku mbayanginnya ke mana-mana x) anw pokoknya aku sukaaa ceritanya hihi. semangat dhilaa, keep writing yaaa!😀

    • ASTAGA HALO KAK FIKA!
      hehehe iya kak:’ kalo yang di writerssecret kan lebih ke solilokui ya, kalo ini bener-bener yang cast dllnya buatan sendiri, kurasa????
      masa sih kak? aw makasih banyak kak fika! like really, thanks a lot! ini komen pertama di sini aku seneng banget dapet review dari tulisanku udagitu kak fika yang komen juga :”) honestly i feel guilty huhuhuhu aku komen dikit banget di fic kakak kemaren😦 but i guess our interaction not only based on how much we write? thank you kakak (hug) (hug) (hug)

      Hahahaha enak dan gaenak nih Magnolia! Sebenernya aku tadinya mau nulis Gideon tuh mean beneran kayak dia punya masalah psikologis di mana dia tempramen gituu. Tapi ke sini sininya aku jadi gatega hahahahaha. Kayaknya mantepin dia ke tough guy tough brother aja dehhh❤

      SAMA KAK! aku tuh udah punya kakak (perempuan) tapi dari dulu aku selalu ngimpiin punya kakak laki-laki heuheuheu mungkin ini yang bikin aku nulis oc-yang-berkakak-lelaki yaaa hahaha😄

      its okay kak anak pertama dicintai adik-adiknya aw❤ i love my sister too!

      kakfika :"""""""" ini beneran touching, its an honour to received such a lovely and mood-boosting comment you knooooow, really really super duper thanks!!!!!! (hug) (hug)

      Magnolia be like 'o…………………………….ojadi………………………..oh si itu tuh……………………oh……………………LAH TETEP AJA GIDDIE LO BIKIN HIDUP GUE BERAT' that kind of feeling hahahaha😄

      iya kasian Rowan ya sebagai satu-satunya yang normal dan gaikut perang-perangan dan super duper manis aw Rowan dambaan remaja&ibuibu.

      Tadi aku sempet cari criminal minds, terus kayaknya yg cowo suits Gideon well??? Aku belom nonton sih! Tapi sepertinya iya kak???? gapapa kak aku juga lagi nyarinyari orang yg bisa menjadi figur Gideon di real life:")

      aku juga sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa komentar ini hehehehe. makasih banyak banyak banyak kak fika!!!! semangat terus kakak! yess, I will! <3<3<3

  2. uhuhuhuuhuhu gila baper bangett aaaa mana cam juga egh. fyi aja kak(?), itu kalo aku jadi mag lengkap banget idupku. punya abang dan adek yang hot af egh. makasih kak, udah lama banget nyari fic yang kayak gini❤
    ps: maaf kak sok kenal, gatau darimana nyampe blog kakak. velly, '00 kid kak, salam kenal kak :D!

    • haii velly! HAHAHA iya ya? kita yang gak di posisi mag pasti bakal iri banget, tapi aku yakin kalo beneran jadi mag, wah pasti keluhannya setumpuk!😄 insting manusia, gapernah puaaaas. Aw, sama-sama hahahaha. izokey velly! salam kenal, aku Dhila, 98l. Kamu bisa panggil aku kakdhil atau kak dhila😀 thanks yaa udah berkunjung ke siniii

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s